Perihal Menjaga


“Jaga” adalah perihal empuk yang menjadi obrolan tiap malam layaknya bunga rampai dalam sebuah buku teks tebal. Mungkin akan menjadi obrolan para kaum hawa dibandingkan kaum yang satunya. Meski kaum yang satunya sama-sama dituntut untuk menjaga.
Secara kasat mata, perempuan akan terlihat menjaga jika objek perempuan memang ditutup rapih seperti undangan pernikahan para mantan. Sayangnya, aku tidak ingin membahas perihal perempuan yang menutup atau tidak menutup dari jenis pakaian yang dilakukan. Akan lebih indah jika apa yang aku bahas adalah perihal menjaga bagaimana ia melaku. Bisakah kau sampingkan perihal perempuan yang tertutup rapih itu? Iya, memang itu wajib dalam keyakinanmu. Akan tetapi, yang ingin aku sebut dalam narasi ini adalah perihal “jaga” yang nyatanya tidak menjaga. Entah tidak menjaga, terjaga, atau malah memang tidak dijaga.
Jika ingin dilugaskan sekalian, hanya banyak pertanyaan perihal definisi menjaga nya perempuan. Dalam narasi ini, adalah pandangan yang sangat subjektif yang melihat bagaimana karib ku melaku. Pun kebanyakan berisi pertanyaan yang tidak perlu dipertanyakan.
Yang pertama. Adanya kemarahan yang ditahan mengenai ia seorang hipokrit yang melaku bagai para dewa yang dengan tenang lenggang di jalan raya. Entahlah bisa semarah itu, tapi yang paling tidak Saya suka adalah melihat tari topeng sunda yang diperankan manusia biasa tanpa panggung ataupun dalam pesta. Untuk apa? Bagaimana lingkungan melihat begitu dangkal dalam selembar kain memang.
Yang kedua. Terjaga adalah situasi dimana kamu berada dalam tidur, lalu kamu bangun dengan segera karena hal yang tidak bisa dihindarkan. Lalu kamu tiba-tiba menjadi awas bagai pemburu yang dikejar mangsanya sendiri. Sedang terjaga dalam narasi ini adalah keadaan dimana kau menjaga dirimu sendiri, membantu menjaga diri orang lain, sedang orang lain itu tidak tahu nilai arti menjaga seorang puan.
Yang ketiga dan terakhir. Dijaganya seorang manusia oleh manusia adalah hal yang biasa dirindukan oleh seorang puan. Namun, dijaga oleh Maha segala adalah berkah yang tidak setiap manusia bisa syukuri. Bahkan tidak semua sadar bahwa dirinya tidak pernah sendiri. Lalu, kenapa mereka tidak malu dalam melaku?
Pun dari satu sampai tiga, Saya yakin banyak yang tidak mencerna apa yang Saya narasikan. Lugasnya, hanyalah pertanyaan yang entah kenapa banyak sekali di samping Saya yang menjadikan selembar kain menjadi topeng untuk terlihat lebih indah, sopan, dan baik. Sedangkan, laku yang nyata masih nihil. Jika memang semua adalah proses, jangan menjadikan proses sebagai alasan untuk tetap tidak bertahap dalam sebuah hasil. Tapi berada dalam kalangan hipokrit yang melaku akan menjadi unek-unek yang tidak bisa tidak diungkap, tapi diungkap hanya sebatas obrolan level sapa saja.  Karena dalam masa kini, orang yang peduli beda tipis dengan orang yang ikut campur, sedang mereka kaum yang merdeka dengan dirinya sendiri tanpa mau ada campur tangan kaum lain.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar