Surat Untuk Kartini

Sendainya Aku pada masa Kartini dan Kartini pada masaku. Maksutnya, kita dipertemukan dalam masa yang sama, masa ketika ucap merdeka takkan dipenjarakan di Bukit Duri atau diseret oleh totok Belanda atau bahkan Inlander khianat. Balik lagi, maksutku, Aku setidaknya di umur Kartini ketika Ia dengan rajin menyerukan pikiran-pikirannya. Dari kebingungan mengenai Tuhan satu tapi banyak cara untuk menyembah, tentang pendidikan yang secuil pun susah untuk dikasih pada manusia-manusia pribumi, dan mengenai feodalisme yang ketinggalan jaman. Coba Aku bisa berbincang denga ia sejenak, setidaknya sampai kopi menjadi dingin dan tinggal bubuk ampas yang tersisa. Boleh lah kalau dilanjut dengan segelas teh hangat dan pisang goreng.
Masaku kini, Aku perempuan, bisa setara dengan lelaki. Aku bisa bekerja, bersekolah dan menjadi seorang pemimpin. Bukan seperti masamu Kartini, yang masa depan wanita paling tidak sudah jelas statusnya, seperti abangmu bilang kalau masa depanmu jadi raden ayu-seorang istri. Wanita kini,-bersuami atau belum-, tidak ada larangan untuk tidak bisa keluar rumah, tidak bersekolah, tidak bekerja.Tapi masaku kini, dengan kebebasan yang Aku dapatkan, dalam tanah merdeka dan diri yang merdeka, Aku bingung bagaimana memerdekakan Aku yang sudah merdeka ini.
Kartini jika kau jadi perempuan merdeka dimasaku, bagaimana bentuk perjuanganmu? Kau bukan lagi anak bupati, tapi kau anak ibumu. Yang entah Aku tidak tahu namanya, karena kau bahkan tak pernah sebut nama ibu kandungmu itu. Bagaimana, bentuk perjuanganmu?

      Aku harap surat ini akan sampai pada satu purnama berikutnya, tepat di tanggal surat ini dilayangkan. Semoga kau pun tak sibuk dengan perihal persiapanmu menjadikan wanita sekarang untuk bisa meneruskan perjuanganmu dalam ranah yang tidak kebablasan. 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar