Epik Bramoedya : Sebuah Narasi Cerita Tanda Tanya



“Mana ada anak sekarang yang tidak tahu si Bung Bram itu kan? Tulisannya ada di baju kaos pemuda, bukunya ada di setiap toko buku kampus pinggiran. Ya, meski buku foto kopian yang dijual harga sudra.” Tutur pemuda berambut gondrong  mengelombang.
“Bung Bram? Apa yang kau maksud adalah Bung Bram yang pernah di Buru itu, yang naskahnya dibakar oleh penguasa yang takut sama perubahan? Apa kau sengaja salah sebut nama?”
“Iya, Bung Bram yang mengajarkan kita keberanian dan menyerukan kita untuk tetap menulis.”
“Oh, asik sekali kau salah sebut nama, sudah lah buang saja lintingan yang ada ditangan kirimu itu. “
“Oh ini? Aku hanya berusaha untuk terlihat keren saja bung”, akhirnya, pemuda berambut coklat itu membuang lintingannya di tanah sambil menginjak bebas bara api yang menyala malu-malu dalam putung rokok pajangannya itu.

Jadi, ada yang sedang disebalkan oleh “siapa dia” ketika ada seorang yang cerdas dalam teori dan praktek sebuah agama, yang kemudian bilang bahwa penulis yang dipujinya adalah seorang komunis. Sedang komunis dalam arti sederhana dalam lingkup pergaulannya adalah manusia yang tidak bertuhan dan menentang adanya suatu negara republik nesia. Ada yang ngawur mungkin bahwa seorang penikmat sastra disebut dengan komunis. Meski titel komunis tidak akan menggangu pemuda itu. Bahkan disebut komunis pun tenang saja. Bukankah komunis adalah paham yang ingin mensejahterakan rakyat? Bahwa semua sama, sama rata sama rasa? Begitu yang diyakininya. Jadi masalah komunis merebut tanah merdeka juga entahlah, karena menurutnya, komunis juga akan tergantung pada individunya. Mungkin memang orang-orang kebetulan menemui komunis yang atheis, jadi pukul rata semua bahwa seorang komunis adalah orang-orang yang tak bertuhan, sedang negara sekarang dipegang oleh tangan manusia bertuhan yang mengatasnamakan Tuhan untuk memegang negara.
Karena akan lebih istimewa ketika orang yang bertuhan yang campur urusan negara dibanding manusia gondrong yang disangka brandal yang tak sejalan dengan norma dunia. Sedang sayang sekali, brandal-brandal itu yang sigap di garda paling depan membela keturunan nenek moyang republik, Si Petani tuan tanah yang tak punya kuasa tanah kembali. Adakah yang bisa jelaskan mengapa Tuhan tiba-tiba populer dalam kalangan manusia untuk diungkap kuasanya? Bahkan berbondong-bondong memperlihatkan betapa taatnya ia? Apakah kuasa Tuhan berada pada tangan panjang  mereka atau pada kibar rambut gondrong mereka?
Bukankah ada anjuran untuk mengaji pada sebuah ajaran? Bahwa setiap bocah berlomba-lomba dititipkan oleh orangtuanya dalam sebuah majelis? Dengan begitu untuk mengaji atau meng-kaji sebuah perkara akan mudah bukan? Mana yang jelas mengatasnamakan Tuhan atau Tuhan yang namanya paling diatas-kan?
“Lalu apa maumu sebenarnya? Mumpunng depan ada ATM sekalian saja beli tiket kereta jurusan Jogja, begitu?”
“Hahaha, kau memang semengerti itu kawan!”
 Rayuan pemuda gondrong pada karibnya itu akhirnya mempan.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar