KEPO maksimal : Senjata Konsumen Cerdas di Era Digital



sumber gambar: http://siswaspk.kemendag.go.id/asean/sikoncer.png

Menjadi konsumen bukankah sudah dimanjakan dengan adanya perlindungan melalui UU Nomor 8 Tahun 1999 Tentang Perlindungan Konsumen Republik Indonesia? Jadi apa yang perlu dikhawatirkan ketika sekarang ini sudah banyak cara untuk bertransaksi secara aman. Meski sudah tercatat sebanyak 642 keluhan yang diadukan kepada YLKI (Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia) selama tahun 2017 terutama pada belanja online yakni senilai 18 persen. Serta menurut data yang diperoleh dari laman tempo.com dengan judul 642 Aduan ke YLKI di 2017 paling banyak dikeluhkan yakni E-Commerce, peringkat keduanya ditempati pengaduan soal bank, lalu perumahan, telekomunikasi, listrik, leasing, paket, transportasi, otomotif, dan TV kabel.  Meski banyak kasus yang tercatat, konsumen masih tetap berkuasa dengan adanya undang-undang yang memihak pada konsumen.
Meski sebagai konsumen masih merasa was-was dengan kasus yang masih segar yakni produk sarden kaleng yang mengandung cacing yang memang sangat merugikan konsumen. Meski begitu, masih ada BPOM (Badan Pengawas Obat dan Makanan) yang masih berfungsi sebagai alarm konsumen. Lalu dari dunia e-commerce, masih adanya konsumen yang tertipu pada saat transaksi yakni ketika uang sudah dikirimkan namun barang yang dibeli tidak kunjung sampai. Dan biasanya memang berada di kesalahan konsumen yang tidak dianjurkan untuk mengirimkan uang ke pihak selain penyedia jasa, namun tetap saja ada yang mengirimkan ke pihak penjual. Dengan melihat kasus tersebut, memang konsumen haruslah cerdas dalam menentukan pilihan.
Dan kerugian yang paling maha untuk konsumen adalah kasus penipuan travel umroh bahkan sampai travel kecil skala open trip. Memang dengan kasus penipuan ini menuntut umtuk para konsumen bertindak. Mau tidak mau konsumen memang berkuasa atas keamanannya sendiri. Apalagi dalam dunia yang serba gampang, yakni melakukan pembelian barang atau jasa secara digital, yakni tinggal memilih barang atau jasa, lalu transaksi akan selesai dengan mengirimkan uang melalui digital pula. Lalu adakah tugas konsumen di zaman yang serba digital ini? Dengan segala transaksi yang serba digital, bukankah konsumen adalah raja yang sudah dilindungi UU pula? Menjadi konsumen memang serba dimudahkan, dari e-commerceyang semakin banyak pilihan.
Namun langkah tepat dan cerdas seperti apa yang membuat konsumen tidak dirugikan dan tetap berhati-hati meski sudah ada YLKI dan BPOM ketika produk sarden kaleng yang mengadnung cacing pun masih lolos dari pengawasan? Memilih membeli jasa pada perusahaan yang sudah ternama pun tidak menjanjikan keberhasilan. Bukankah konsumen berada dalam keadaan yang tidak terjamin. Bahkan uang yang sudah dikirimkan pun tidak bisa langsung dikembalikan pada konsumen.
Jadi, memang konsumenlah yang berkuasa atas keamanan dirinya meski konsumen sudah ditopang dengan UU Perlindungan Konsumen. Konsumen harus melek media, dan bisa membedakan mana penyedia barang atau jasa yang memang kredibel. Memang sudah menjadi tugas konsumen di era digital ini untuk menentukan nasib sendiri dengan cara memilih penyedia barang atau jasa yang tepat. Nah cara yang dilakukan pun dengan cara yang ada di zaman digital ini, yakni dengan cara kepomaksimal. Kepo adalah istilah utuk menyebut mau tahu, atau serba ingin tahu mengenai sesuatu. Secara aknornim , kepo adalah Knowing Every Particular Object
Nah, sebagai konsumen yang cerdas di era digital, harus cerdas juga dengan sering kepo kepada penyedia layanan ataupun barang dan jasa yang ingin dipilih. Bahkan sampai kepo pada hal sekecil mungkin perihal hak dan kewajiban konsumen yang bisa diakses melalui laman harkonas.id. Karena dengan kepo maka akan tahu mana penyedia atau barang dan jasa yang memang kredibel untuk dipilih. Tahu bagaimana ketika merasa dirugikan dan tahu untuk ke bagian mana harus melapor saat bertindak. Karena tidak hanya berita saja yang hoax, namun penyedia barang dan jasa pun bisa saja hoax. Jadi jangan sungkan untuk kepo pada hal yang memang bermanfaat pada diri pribadi dibandingkan rugi setelah membeli.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar