Surat Lalu

sumber gambar : https://twitter.com/sarlisart/status/966490698781425669

Mohon, jangan ada patah hati yang selanjutnya.
“Aku sekarang merasa abu dan kaku. Karena rasa yang ditahan tidak hanya barang sebentar. Mengenai sesal yang tidak tersampaikan. Dan ku harap dulu aku meraung saja-sejadinya. Persetan dengan bocah atau apa. Berharap bisa jujur dengan apa yang dirasa. “
Perihal hati yang patah memang bukan segala, jika dibanding kebebasan yang patah. Namun, jika berkenan mendengarkan, patah hati Saya yang pertama yakni perihal ditinggalkan yang menjadi trauma bagi Saya. Patah hati saya waktu itu bukan ditinggal ia lelaki, tapi mereka orang tua saya sendiri. Senja setelah saat saya belajar mengaji di masjid terdekat di rumah saya, pun masih lengkap memakai baju taqwa. mendadak dunia menjadi sempit dan buyar, lalu saya tak bisa berkata. Hilang sadar sementara, tak ada kata. Tak ada rengekan bahkan. Mata berbinar, menahan air yang nanti nya bakal berjatuhan.
Tak ada kabar sebelumnya. Saya yakin tak ada obrolan sebelumnya. Dan pada saat hari H, saya sadar bahwa kehidupan itu, membingungkan. Sebagai pemula yang baru duduk di bangku sekolah dasar saya berusaha untuk menjadi dewasa dengan indikator tak ada air mata dan rengekan. Saya mencoba berperan. Ketika sudah masa saling ucap pisah, saya balik rumah, bingung. Akhirnya, saya pasrah bahwa saya memang bocah. Saya menangis, Merintih sakit. itu adalah patah hati pertama saya yang tidak bisa dilupa begitu saja. Meski Saya (tidak) menangis sejadi jadinya.
Sejak patah hati itu, dunia saya berubah. Saya menjadi bocah yang rajin meminta pada Tuhan, mengaji tiap sore, berjamaah ke masjid, menjadi yang pertama di sekolah saya. Saya kira Tuhan akan kembalikan mereka dengan segera. Segera dalam waktu manusia nyatanya berbeda. Saya menjadi berubah dalam bertahun tahun itu. Lalu saya mendapat orang tua kedua. Dalam patah hati saya, mereka adalah penawar mujarab bagi bocah seperti saya. Mereka adalah orang tua dari pihak Ibu Saya. Pun akhirnya 3 tahun lalu Kakek Saya mendadak pergi ditelan bumi. Ia pamit undur diri. Sedang saya tidak disisinya, bahkan tidak diperkenankan untuk bertemu barang jazadnya. Lagi. Patah hati yang kedua itu. Butuh seratus hari saya untuk lega. Dibanding yang pertama, saya menangis sejadi jadinya. Sayangnya, tidak ada keluarga yang tahu bagaimana Saya meraung seperti Rahwana yang kehilangan Shinta.
Pun hal itu bersambung lagi pada masa kini. Untuk ucap “jangan” susahnya tak bisa kalahkan diri.  Sedang sekarang, (jujur) saya sedang uring-uringan yang tidak bisa diungkapkan, tolong jangan ada patah hati yang ketiga atau selanjutnya. Jangan ada yang pergi, dulu.

*diikutsertakan dalam kompetisi di Story Kumparan

Tidak ada komentar:

Posting Komentar