Rara dan Abangnya

sumber gambar : https://twitter.com/sarlisart/status/973293229696344065

"Mas, kan aku sudah baik-baik sama kakak cewek yang lain. Kakak yang lain itu ada beberapa yang akhirnya malah nanya ke aku kenapa abang ku selalu saja hilang,” Ungkap Rara risih dengan kesibukan yang tak berafaedah gara-gara kakaknya.
“Terus kalau sengaja buat main-main ya harus pinter dong. Jangan sampai dibilang bajingan atau bangsat. Jangan sampai malah dikira laki-laki yang tidak berani tanggung jawab.” Tutur Rara pada abangnya itu sambil beranjak dari kursi di ruang tengah rumah mereka.
Dialog mereka dimulai di ruang tengah selepas penat keseharian mereka. Hari ini Rara kena lagi ulah kakaknya yang jahil. Hampir tiap bulan banyak tuntutan yang diungkap Rara kepada abangnya tapi tak ada bedanya. Semua kasus nya sama. Suruh kakaknya untuk balas pesa WA, telpon, atau menuntut kejelasan status hubungan kakaknya.
“Aku malu loh mas, tiap hari si “ini”, si “itu” pada dateng ke aku, pada ngomel, marah-marah kenapa wa nya ga dibales sama mas Bagas. Yang dateng ga cuma satu, ini gerombolan. Bawa laki-laki juga ”, sambung Rara sambil menyandak air es dalam kulkas. Ia menenggak habis air mineral 500 ml dingin itu.
“Lah, kalau mbaknya  yang ke GR an gimana dong dek?” tanya kakaknya sambil melangkah pergi ke kamarnya meninggalkan Rara.
“Loh, kalau mau dibilang laki-laki keren yang dideketin jangan asal sembarangan. Memangnya apa yang mau ditunjukan kalao banyak yang ngejar? Kalau flirting siapa juga yang ga bisa, kalau soal rayu merayu siapa juga yang ga pinter, kalau soal komitmen berani ga?gak wani kan?”, tukas Rara jengkel. Baginya, terlalu banyak jenis manusia yang terlalu kompleks. Kalau mereka lapar bukannya mencari makan, atau mengungkapkan lapar. Malahan pasang status, mengabarkan pada dunia kalau lapar. Memangnya kalau bikin status lapar, bisa langsung kenyang?
“Otak mas ditaruh mana tha? bilangnya pinter, terus bisa tahu mana yang suka, nah abis itu malah bilang sananya yang terlalu ngaep. loh kok ternyata bodo banget ga bisa liat akibatnya mas. Nanti kalau disalahin ga mau. Nyalahin mbak nya yang itu. Terus bandingin mbak yang itu sama yang lain. Trus aja gitu, adekmu ni yang kena loh mas. Jan, mainmu po kurang adoh? Po kurang wengi? Po kurang asik? Dadi indikatormu kui akeh tenan cah wedok an. Sok siji wani ra? Sing jelas?”
Menurut Rara, abangnya yang satu ini cukup pintar menelaah sebuah persoalan. Atau emang wataknya saja yang malah bikin merugi orang lain. Kok kalau dipikir-pikir , abangnya malah konyol. Seakan-akan nanti kalau ada wanita yang mencari dia malah disalahkan yang sananya. Hidupnya buat apa memang? Tampilannya aja yang sok grunge , otak disimpen saja di laci lemari, kelakuannya tidak seperti musiknya yang di dengar tiap hari.
“Loh, keren kan jadi adek nya aku. Kan kamu yang jadi kecipratan hadiah. Siapa yang ga tau kamu Ra. Adeknya Bagas. Kemana-mana juga pada nyapa, kenal. Seneng kan?” tukas Bagas santai. Bagi Bagas, bukan masalah besar. Kalaupun memang jadi semrawut ya sudah tinggalkan saja juga bisa. Kenapa mereka harus saling sapa untuk pamit, bahkan langkah kaki balik kiri dari barisan hidupnya juga ia terima saja.
“Mas Bagas, dapetin satu yang disuka aja belum tentu bisa. oh jadi ceritanya biar mbak yang satu itu tahu kalau mas Bagas pantas diterima gitu? Branding ceritanya gitu?”
“Bocah kecil mana  ngerti, ini tuh baru proses. Santai aja. Drama amat sih? Kurang-kurangin liat Netflix !” usir Bagas pada manusia di depannya itu.
“Kurang-kurangi baca hoax kali mas kau. Banyakin baca, banyakin main, jadi orang kok bacaanya cuma buku Erlangga. Lagian kan aku cuma nyampein pertanyaan ku dari mbak yang nanya kamu terus itu loh. Makannya, main sama laki-laki dong mas. Biar  perilakunya juga laki. Jangan kayak cewek, banyak dramanya! Tuh loh kayak Bang Fariz. Gerombolannya laki semua. Main gitar, ngobrol, nonton bola atau apalah. Bukan mainin perasaan”.
“Bilang aja suka ke fariz, Cuma diem diem aja kan. Tar aku bilangin loh”.
“Ya harus, baik mas fariz, kalau dia ga tahu nanya, kalau dia ditolong ngucapin makasih. Kalau ada apa-apa diobrolin bukannya malah pergi. Dan memang, semua laki-laki memang baik pada dasarnya. Mas Bagas juga  baik. Suruh minta tolong ini juga dikerjakan kan? Semua baik. Makannya aku belajar mengartikan kebaikan laki-laki loh mas."
“Wiw, jijik juga lu! Dek gini loh, aku biasa aja . Mereka aja yang ke GR an loh. Siapa suruh juga suka ke aku. Mereka aja yang belum apa-apa sudah menuntut status. Baru juga di sapa udah kayak mau dilamar. Ribet!”
“Gimana-gimana? Oh, mas sekolah 12 tahun buat apa? bacanya buku Erlangga aja ya? Ga bisa baca situasi emang situ asu? emang, mana ngerti sih ngobrolin soal anak SMA sama anak SD."
“Eh anjrit..” kata Bagas jengkel juga.
“Ibuuuu . Mas Bagas ngom ke aku anjing” teriak Rara mengadu. Disusul suara ibu nya menegur mereka berdua sebagai penanda berakhir obrolan mereka juga.
“Mampus lu!” Pungkas rara mengakhiri obrolannya dengan abangnya sembari bergegas kembali pada zona nyamannya.
Dalam benak Rara, abangnya itu jenis manusia yang seperti apa juga tidak nampak. Sampai banyak yang menjadikannya sebuah alasan untuk ribut. Kalau dasarnya jahil sih sudah keterlaluan menurutnya. Yang ke GR an malah abangnya atau bagaimana. Jangan-jangan abangnya yang terlalu extra. jadi pikirannya terlalu lebay, padahal biasa aja. Kalau abangnya bisa pintar menyimpulkan sebuah laku, kok lumayan tolol untuk menerka sebuah akibat. Lalu, kalau mau jahil kok malah gak tanggung. Malahan jadinya pecundang. Pecundang kalau kata Bob Marley ialah laki laki yang sengaja membangkitkan cinta wanita tanpa berniat mebalasnya.kalau dilihat dari abangnya Rara benar juga.

“Ya sudahlah, setidaknya sudah ada satu pecundang yang kutemui. Biar kedepannya udah terkurangi”. Mantra Rara paling terakhir.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar