Bacanku


Aku ingin sekali mengulas buku bacaanku. Kalau orang bilang, baca buku akan lebih kritis tapi malah mungkin yang terjadi malah sedikit apatis. Mungkin membaca melatihku untuk menjalankan seni untuk tak terlalu peduli. Dan lebih mengerti bahwa kehidupan setiap orang di dunia ini hanya mereka sendiri yang punya kendali.
Buku yang pertama kali aku baca adalah sejarah Majapahit dengan patihnya Gajah Mada. Waktu umur 5 tahun bahkan merapal sumpah Palapa bukan hal yang istimewa. Dulu untuk seumuranku bisa juga dibilang terlalu cepat membaca. Kalau tak percaya tanya saja sama keluarga saya. Sedang buku cerita anak anak karya Enid Blyton lah yang mengawali segala. Buku cerita itu aku temukan di sela sela buku pelajaran kakeku. Oh iya, kakeku masih belajar karena ia seorang guru. Lalu aku ambil dan baca saja tanpa tergesa. Namun narasi cerita di dalamnya pun sekarang aku sudah lupa. Hanya bagian petualang dan anjing yang tidak ku lupa. Lalu ada buku berjudul 4 sekawan atau bahkan 5 sekawan?
Lalu perpustakaan sekolah dasarku mana ada buku bagus. Hanya buku bergambar lumba-lumba yang halamannya saja sudah kena rayap dan tulisannya hangus. Tak ada buku yang bagus pada masaku dulu selain buku the famous five oleh Enid dan sejarah Majapahit. Namun, setibanya di sekolah menengah pertama, lumayan banyak buku untuk dibaca. Waktu itu aku menamatkan buku petualangan Tom Sawyer yang dikarang oleh Mark Twain dan The Adventures of Huckleberry Finn. Buku itu lumayan tebal dengan bertuliskan milik negara tidak diperdagangkan. Waktu tahun itu, sekolah sudah di kota. Yah, waktu sekolah dasar kan di desa. Jadi ketika di kota ada kesempatan pergi ke toko buku gramedia. Toko buku satu satunya yang ada di daerah itu dan hanya tabloid yang mampu ku beli dengan uang saku waktu itu. Waktu smp aku ajak orang tua ke Gramedia dan menyuruhnya membeli buku untukku. Tidak seperti bacaanku, tapi buku yang ku beli berjudul Nabi Muhammad dengan sampul buku merahnya dan Bagaimana Membaca Kepribadian Muslim Seperti Membaca Al quran. Menurutku dua buku itu yang patut aku miliki. Waktu itu. Sekarang? Toko itu sudah undur diri bertahun tahun yang lalu. Namun ada seorang lulusan mahasiswa pendidikan di jogja yang membuka rental buku di situ. Nah pas umurku 13 aku sudah mulai mampir ke perpustakaan berbayar itu. Semuanya berawal gara-gara mahasiswa itu!
Nah di rental buku itu, aku leluasa membaca buku genre apa saja dan jenis apa saja. Buku buku itu ia belidari toko-toko buku di Jogja. Setahun awal sih aku tertuju pada comic jepang berjudul conan, air gear, death note, prince of tennis, one piece, naruto, dan comic shounen lainnya. Tapi dibarengi  dengan baca teenlit remaja karya Illana Tan, Esti Kinasih, dan lainnya. Tapi genre yang paling dipuja sih novel terjemahan fiksi. Harry potter, The Chronicles of Narnia, spiderwick Chronicle, Vampire Diaries, trilogi terjaga, dll. Sembari di masa akhir sekolah aku “berkenalan” dengan Donny Dhirgantoro, penulis buku 5cm (Itu loh buku yang diangkat ke layar lebar mengenai naik gunung. Bertahun lalu aku sudah baca dulu dan “mampus” aku berpikir akan melakukan perjalanan itu yang akhirnya bisa tercapai di masa kini).  Dan di tahun itu aku berkenalan Tetralogi Buru Pramoedya Ananta. Pada masa sekolah putih biru, menjadi bagian dari OSIS dan dewan pramuka selama dua kali periode membuat aku tak bisa berpikir selain buku dan ilmu. Apa hidup tak terlalu lurus waktu itu?
Selepas SMP, kecepatan bacaku terlalu meningkat dan menakutkan, tetralogi buru selesai, 4 buku Eragon selesai,  Negeri 5 menara, 6 buku the Alchemystnya Michael Scott, 5 Percy Jackson, dan buku lainnya yang ku lupa. Intinya, kalau aku harus bernostalgia, urutan pertama yang aku ingat hanyalah judul-judul itu. Bahkan tahun itu aku sengaja membeli buku box set narnia dengan uang sakuku (ini juga sebuah usaha). Oh iya, Agustinus Wibowo juga pernah aku baca meski hanya sekilas dalam perpus itu.
Tahun-tahun baru masuk SMA sudah ada laptop. Benda paling menguntungkan dalam kehidupan anak muda. jadi aku mulai menonton film tiap hari setidaknya satu kali. Bahkan ada daftar seratus film lebih di buku tulisku agar aku tak pinjam film yang sama. Dulu masih dalam bentuk kaset, lalu setahun setelahnya sudah berbentuk data. Film film itu pun dikenalakan oleh si lulusan mahasiswa.
Berita buruknya, aku penjurusan dan masuk kelas IPA. Berita buruknya lagi, jika kau masuk kelas itu, tak ada waku luang untuk membaca buku. Pulang sekolah jam 4 lalu kau harus ikut les sampai malam. Sepertinya aku kan merasa hidup jika dijurusan bahasa atau sosial saja. Namun anehnya namaku terdaftar pada kelas ipa, jadi aku undur diri dengan surat dan tanda tangan ibuku yang kupaksa. Jadi sukseslah aku berpindah kelas sosial untuk terus bisa baca buku bacaan. Dan enaknya, jabatan sekretaris osis selama dua tahun memberi ku waktu luang untuk selalu izin rapat, izin acara, izin pergi kalau kelas sedang susahnya. Dalam dua tahun itu waktu terbaik untuk membaca buku.
 Oh ya, bacanku yang lain tentu saja kitabku sendiri Al Quran yang setiap minggu di sekolah harus kubaca tiap sorenya.  Selain baca tulis Al Quran aku juga baca tulis huruf korea. Sejak sd aku sudah tertarik dengan drama dan bahasanya. Jadi aku dulu alay sampai smp saja, sepertinya. Setelah semua itu, setelah baca buku beribu lembar itu,  akhirnya harus fokus belajar karena sudah medekati final.
Waktu kuliah, buku rasanya seperti sampah. Menggunung berantakan. Baru tahu ada buku kiri, kanan, dan netral. Di sini aku temukan perpustakaan paling gila, Batu Api namanya. Yang dulu anggap Pramoedya adalah dewa, patah sudah. Di sini,  buku-buku pemenang nobel dan pulitzer tersedia. Dari bahasa apapun dan negara apaun. Aku baru tahu bahwa buku buku sastra rusia adalah pemenang di hati para manusia. Leo Tolstoy War and Peace, 2 bulan aku menyelesaikannya. Bahasa inggris pula. Buku sastra Iran, Jepan dan China. Musyawarah Burung, Moyan, Haruki Murakami tersedia. Dostoyevsky sampai Mangunwijaya atau Mochtar Lubis ada. Mau kau cari penulis angakatn 45 sampai Balai Pustaka atau sampai Andrea Hirata ada. Bahkan seperti Dee atau Ayu Utami. Gilak!
Tapi di sela sela itu jangan lupa juga kalau Al Quran dan terjemahan juga kerap dibaca. Atau buku Sirah Nabawiyah dalam beberapa jilid itu juga harus dibaca. Setidaknya jangan sampai lupa kalo perintahmu untuk “baca” bukan baca buku sastra dunia atau klasik atau roman sejarah, tapi baca Al Quran agar tahu hidupmu untuk apa!


Tidak ada komentar:

Posting Komentar