Mengingat Masjid


Awal mulanya, orang tua biarkan anak ini mengaji di TPQ Aswaja. Tempat ngaji paling populer yang ada di masjid sekitaran rumah saya. Setiap hari tanpa henti pukul 3 sampai jam 5. Dalam dua jam itu, kami belajar doa, hadits, cerita nabi, dan tentu saja mengaji. Awalnya lembaran iqra jilid 1 sampai enam. Kemudian juz amma. Kemudian katam Al Quran. Kemudian kitab kuning yang belum katam katam.
Setelah pukul 5 sore, saya balik kembali untuk menghibur diri. Kalau tidak nonton televisi ya jalan-jalan sendiri. Soalnya menjelang maghrib saya harus balik lagi ke masjid untuk sholat berjamaah dan mengaji setelahnya. Dilanjut isya berjamaah lalu pulang ke rumah. Perkara pulang ke rumah ini yang sangat sulit. Selain hari kamis malam, mungkin biasa saja. Karena dalam kamis malam ada tuntutan tadarusan dan pulang jam 10 malam. Meski rumah hanya sekitar 5 menit dari masjid namun perjalanan sungguh mendebarkan.
Awalnya saya sendiri ke masjid. Sejak SD kelas 3 mungkin. Kalau matahari sudah redup saya balik ke rumah dan bersiap wudhu dan pakai mukena. Saat keluar rumah saya selalu siap-siap lari. Karena apa? Di desa saya, orang-orang terlu pelit dengan listrik. Jalan ke masjid saja tak ada lampu sama sekali. Paling terang adalah lampu di pertigaan dekat masjid. Sedang dari rumah ke masjid itu aduhnya, pekat dan gelap.  Dulu kalau saya jalan ke sana, tangan kanan  memegang alquran dan tangan kiri mukena dan sajadah. Dalam keadaan siap itu, awalnya jalan selo saja, lalu kalau sudah dekat sawah, langsung lari dengan satu hembusan nafas kalau bisa.
Perjalanan ke masjid serasa jauh karena harus lewat pinggiran sawah, pekarangan,dan rumah kosong di pinggir jalan. Menurut saya, pohon jati dekat rumah kosong itu yang paling meyeramkan. Lalu saya pura-pura berani saja, saya tidak lari seperti biasanya. Lalu daun pohon jati itu jatuh di depan saya. Maaf, otak sudah mampir kemana-mana. Setelah itu saya langsung ngibrit saja. Padahal kalau dipikir, pohon jati akan meranggas untuk bertahan diri. Sedang saya berlari untuk menyelamatkan diri.
Sebenarnya beberapa tahun perjalanan ke masjid menjadi lebih lega karena rumah kosong sebelumnya ada penghuni. Namun beberapa lama setelah ada yang menempati, penghuni itu meninggal dalam keadaan sakit. Jadilah kosong kembali. Dulu saya masih sangat percaya dengan 40 hari meninggalnya manusia. Bahwa arwahnya masih jalan sekitaran rumahnya. Oh Tuhan, kalau saya lewat jalan ini saya selalu tahan napas. Saya pernah tak mau pergi ngaji di malam hari karena saat saya pulang solat isya dari masjid itu, saya mendengar seorang wanita menangis tesedu di pojok rumah kosong yang dekat pohon jati itu.  Saya ngambek karenapun saya memang penakut. Tapipun saya tidak menuntut ibu untuk pergi ke masjid bersama saya. Nah solusinya, menunggu dekat jalan apakah ada orang yang keluar yang akan ke masjid. Lalu jalan di depan atau belakangnya dengan tetap menjaga jarak. Namun kalau yang jalan ternyata pak kyai, karena ia tinggal tak jauh dari rumah kami, jadi saya lari biar saya harus sampai duluan. Tapi,  kadang juga saya mengikuti bapak tua di belakang, namun pernah jug bapak itu menghilang. Beneran. Lalu saya ngambek lagi tak mau ngaji dimalam hari. Padahal ngaji atau tidaknya juga pilihan sendiri. Lalu ngambekpun pada diri sendiri. Aneh.
Waktu dulupun masjid tak begitu ramai. Kalau saya sholat, saya biasanya disamping nenek-nenek tua. Dulu meski masjid ada jendela, tapi kalau setelah lari kan panas juga. Saya  nyalakan kipas angin diatas saya tapi ujungnya dimatikan juga. Kata nenek disamping saya, ia kedinginan. Tapi kan saya kepanasan!
Namun setelah saya harus sekolah menegah pertama yang jaraknya 30 menit dari rumah dengan bersepeda, kegiatan mengaji itu menjadi langka. Baik saya yang sudah jarang pergi ke masjid, dan memang anak-anak kecil jarang yang main-main ke  masjid. Padahal dulu itu masjid adalah hiburan paling mewah. Apalagi kalau ada pengajian atau maulidan. Pasti banyak makanan dan orang-orang. Atau biasanya di hari minggu pagi ada pengumuman untuk mengepel lantai masjid. Setelah kegiatan itu, saya berlatih menabuh bedug dengan teman laki-laki. Kadang juga berlomba siapa yang paling bisa. Berlomba adzan yang paling bagus kadang juga. Meski saya wanita? Iya entahlah. Dulu juga ngambek karena saya tidak dibelikan peci. Dan akhirnya saat kakek masih ada, saya menangis minta peci dan gitar kecil senar 4 untuk saya. Saya hanya memakai peci karena iri, tapi kalau masalah sholat saya tetap pakai mukena tentu saja.
Yang paling dirindu memang masa kecil dulu. Jauh dari kota, iya. Bahkan tukang eksrim menjadi yang paling istimewa. Tak perlu jam, karena adzan sebagai penanda. Kalau adzan dzuhur harus pulang untuk tidur siang sebentar. Tapi pun juga tidak semuanya ingin dikenang juga. Apalagi setelah solat subuh berjamaah. Selalu ada kultum dari pak kyai yang kadang kutemui. Katanya kultum itu kuliah tujuh menit, tapi rasanya tujuh jam. Tapi memang benar kalau ia berbicara tidak hanya barang sebentar. Sangat lama.
Sedang sekarang, suara adzan tak semuanya terdengar. Kadang 4 kali kadang 3 kali. Meski kadang dan sementara. Mau sholat liat jam, bukan mendengar adzan. Rasanya janggal karena masjid bukan tempat yang paling sering disambangi dibanding warung kopi.
Aku ingin tahu untuk apa kau ke masjid? Untuk sekedar menunggu teman, diskusi, atau karena janji?Atau memang kau bertemu dengan penciptamu? Oh iya, besok  maulid nabi 1440 H. Jadi lebih tahu saja bahwa zaman sudah terlalu tua, menjadi umat akhir zaman kita.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar