Wajah Optimis Pendidikan Bangsa



Menjadi negara dengan tingkat pendidikan di urutan 5 dari 10 negara di ASEAN, Indonesia patut untuk memiliki harapan untuk mewujudkan masyarakat Indonesia untuk mudah mengakses pendidikan layaknya mudah dalam mengakses sumber daya alam. Maksutnya, sudah menjadi hal yang umum ketika asumsi mengenai pendidikan Indonesia masih sangat kurang apalagi di pedalaman dan di desa-desa. Akan tetapi, Indonesia seharusnya optimis dengan pendidikan sekarang ini. Menurut Sri Mulyani selaku Menteri Keungan Indonesia dalam laman economy.okezone.com dalam artikel yang berjudul “Era Jokowi, Anggaran Pendidikan Naik 27% dan Infrastruktur Ditambah 123%“, ia menyatakan bahwa adanya  kenaikan APBN yang dialokasikan pada sektor pendidikan yakni alokasi belanja pendidikan meningkat sebesar 27,4% pada periode 2015 - 2017 dibandingkan 2011 – 2014 dan pada 2017 alokasi capai Rp416,1 triliun atau sesuai konstitusi 20% dari APBN. Jika dana adalah sumber dari segala urusan bahkan selain urusan pendidikan, seharusnya Indonesia yakin bahwa pendidikan Indonesia akan mudah dicapai layaknya sumber daya alam yang tersedia di Indonesia.
Gerakan dari pemerintah melalui kebijakan pun sudah dilakukan sedang dari masyarakat sendiri pun tak gentar. Banyak kegiatan yang bertajuk pendidikan baik komunitas dan bahkan sekelas start-up. Dari kegiatan meningkatkan taraf pendidikan anak pinggir perkotaan sampai meningkatkan kualitas pendidikan anak perbatasan. Dari program pemerintah seperti Indonesia Mengajar sampai Sokola Rimba oleh Butet Manurung yang menyasar anak rimba dalam. meski menurut data jika Indeks Pendidikan Indonesia berdasarkan ranking dunia masih di tingkat ratusan dan masih jelas bahwa Indonesia masih berada di daftar bawah, bukan berarti Indonesia terlalu tersungkur pada sektor pendidikan. Jika ranking dunia menjadi indikator kesuksesan pendidikan indonesia, mungkin perlu dikaji ulang karena Indonesia pun masih di bisa di sandingkan dengan negara di ASEAN.
Apakah kita bisa berkotribusi nayata tanpa omongan saja mengenai pendidkan di Indonesia? Jikakita” adalah dilambangkan setiap masyarakat di Indonesia tanpa melihat latar belakang, tentu saja bisa. Jika memang pendidikan dilambangkan wajah Indonesia, masyarakat Indonesia bisa pasang wajah dengan optimis mengenai pendidikan di Indonesia. Tekhnologi mendorong pendidikan dalam kemudahan informasi, dan bukankah sekarang tekhnologi sudah selayaknya debu dalam kehidupan sehari-hari? Jadi pun akses mudah mengenai pendidikan sekarang ini sudah melekat dalam setiap masyarakat.
Manusia Indonesia bisa berkontribusi, namun bagaimana langkah yang nyata bisa dilakukan? Bukankah asbtraksi tanpa tindakan hanya omongan belakang? Tentu saja pendidikan Indonesia bukan hanya pendidkan formal dalam setting latar kelas belajar dan guru sebagai panduan, namun keluarga pun adalah pendidik yang paling berhak mendidik. Jadi, ketika manusia Indonesia pasang wajah optimis dalam pendidikan Indonesia bukanlah hal yang abstrak karena mereka pun memang bisa merealisasikan dalam bentuk kontribusi untuk menjadi pendidik untuk anak didiknya.
Dari optimisme bangsa yang sumringah  apa yang bisa kita raih? Tentu saja pendidikan Indonesia yang berwajah sumringah. Pendidikan di Indonesia perlu wajah sumringah dari hasil kontribusi setiap rakyatnya. Dari banyaknya program pemerintah mengenai literasi media,  meningkatkan minat membaca, pelatihan para generasi muda, dan banyak lainnya, bukankah pemerintah sangat semangat membangun Indonesia yang terdidik? Dari perwakilan masyarakat Indonesia, komunitas membaca didirikan setipa kota, start up pendidikan didirikan oleh para generasi muda bahkan sudah sekelas dunia seperti Ruangguru contohnya. Bukankah wajah optimis Indonesia bukan hanya abstraksi belaka? Percaya bahwa wajah Indonesia saat ini memang cerminan semangat berbagai pihak dalam keinginan memajukan pendidkan Indonesia.  


*essay ini dikirimkan pada laman belapendidikan dengan judul Pendidikan Indonesia Pasang Wajah Optimis





Tidak ada komentar:

Posting Komentar