Camp Brooklyn

sumber: minabraun.com



Aku ingin tahu orang-orang disni lebih sibuk memikirkan kematiannya atau memikirkan perutnya? Atau otaknya atau isi dompetnya atau nafsunya? Dalam lalu lalang disetiap sudut, semua melangkah terbata. Sebagian kecil sorak porai di bangku melingkar sambil mengeluarkan asap rokoknya. Atau berkumpul depan serambi tempat ibadah sebagai tempat serbaguna untuk bertemu sejawat, atau hanya mampir untuk melepas penat. Apalagi semenjak bulan Desember hujan sedang menggila, serambi tempat ibadah yang bisa saja hanya tepat meneduh saja.
Aku bisa jelaskan dimana setiap manusia terkategorikan dalam ruangan yang seolah tersekat, baik dari pendidikan, gaya hidup, keuangan, atau hati dan pikiran. Kalau kamu langkahkan kakimu menuju bagian barat, kamu akan bertemu dengan manusia yang merepresentasikan umat pada distrik Brooklyn. Ada yang merapal doa, ada yang diskusi tak ada habisnya, ada yang berlatih bela negara, dan ada yang sekadar jalan lewat saja. Di bagian barat itu, ada ruangan bersekat yang berjejer seperti ruko pasar sehat modern. Di bagian barat daya ada sebuah danau buatan kecil yang menjadi bagian dari tempat foto rekreasi “warlok” sekitarnya. Tempat untuk memancing di setiap sore, tempat jogging untuk yang sedang ingin lari di sekitaran air, tempat berlatih olahraga arung jeram para komunitas pecinta alam, dan tempat pembuangan air kotor dari semua 8 penjuru angin di distrik Brooklyn.
Dibagian penjuru angin lainnya, selain barat, kendati terlihat sepi, semuanya melakukan kegiatannya masing-masing. Nanti, kalau kamu ke distrik Brooklyn, ada persembahan selamat datang dengan 2 gapura yang luar biasa. Kaum kami menyebutnya Brooklyn, ya sejenis kota di New York sana. Masih belum tahu siapa pengagagas nama itu, saat aku di masuk camp ini sudah begitu namanya. Mungkin para tetua yang dulu sering bermain kata dan duduk melingkar di bawah gapura. Gapura ini tak ada sepinya, tiap hari sampai tengah malam tiba semuanya terisi manusia. Bedanya, matahari menentukan siapa manusia-manusa itu. Kalau sudah gelap, biasanya manusia para calon filsuf besar  bangsa. Kalau masih terang, biasanya para pejabat camp yang bertugas mengumpulkan masa untuk mendengar isu terkini. Camp ini seperti sebuh distrik dan berisi apapun sebuah bangsa butuhkan. Tapi, sayangnya camp ini tidak bisa melepaskan diri menjadi sebuah ranah yang merdeka. Orang-orang bahkan menyebutnya distrik Brooklyn dan mereka menjadi orang Brooklyn.
Distrik Brooklyn terkonsep menjadi sebuah camp yang menjadikan pesertanya megemban misi. Tergantung ia masuk dalam penjuru angin yang mana. Aku, menjadi bagian camp ini untuk 4 tahun kedepan, tapi kita masih bisa keluar dari camp ini lebih lama atau lebih cepat. Tergantung dengan semua pelatihanmu, apakah kau lulus untuk uji perang nanti. Di camp ini, penguasa bisa dibilang layaknya para dewa olympus yang duduk ditakhtanya masing-masing. Banyak sekali rumor yang dibawa oleh kecoa di camp ini, bahwa bagian dari petinggi sedang sibuk memikirkan kelangsungan jabatan mereka. Bahkan tak segan mereka membunuh peserta camp ini dan memanfaatkan tabungan mereka. Ya, uang menjadi senjata paling ampuh untuk bertahan dalam camp ini. Para dewa itu pun tak segan untuk buka usaha “laundry” untuk kelangsungan nyawa mereka. Mungkin uang itu untuk perbekalan senjata, atau hanya sekedar membeli makan malam mewah bersama keluarganya.
Semenjak aku terdaftar pada camp ini, banyak sekali kabar kecoa yang kudapatkan. Aku ingin sampaikan semua kabar kecoa ini. Kalau aku masih ada kesempatan, nanti aku ceritakan tentang kota diluar gapura, toko makanan kesukaan peserta camp, kabar duka camp, tempat ajaib orang-orang Brooklyn, dan kabar kecoa mengenai para dewa.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar