Baca Buku Rentang Kisah biar apa?


sumber : dokumentasi pribadi 

Buku rentang kisah oleh Gitasav sudah dipublikasikan sejak tahun 2017, namun baru sempat aku baca di awal tahun 2018 dan menjadi buku pertama yang aku baca kala ini. Dan wow, buku yang aku dapat pun sudah cetakan ketiga oleh Gagasmedia. Pun sebaiknya jangan berharap besar buku yang ditulis oleh Gitasav karena pun ia memang bukan penulis handal atau penulis ala-ala dengan keromantisan katanya. Ia hanya mencoba menjelaskan bagaimana hidupnya, dan perkara  mengapa ia bisa bersekolah di Jerman. 

Oke, iming-iming sekolah di Jerman adalah salah satu faktor mengapa Aku baca buku ini. Setidaknya untuk teman yang sudah pernah melihat video blog Gitasav, dalam vlogg sudah dijelaskan mengenai perihal Jerman yang teman ingin tanyakan, atau hanya sekedar make up apa atau skin care apa yang di pakai Gitasav. 
Nah, dalam narasi ini aku hanya menyarankan untuk kamu yang pasti sedang bingung kenapa kamu stag atau hanya gitu-gitu aja, padahal otak udah semangat, pikiran udah sampe wisuda misalnya, tapi skripsi ga jalan-jalan, dosen pembimbing jadi menyebalkan. Mending baca dulu buku rentang kisah Gitasav. Mungkin memang tidak bakal memotivasi kamu, tapi ada bagian di mana setidaknya kita bersyukur untuk bisa kuliah di Indonesia.

Dalam baku itu pun kamu akan disuguhkan bahwasanya waktu setiap manusia sudah ada kuotanya masing-masing. Pun pasti kamu yang sedang kesasar (mungkin) di narasi ini, banyak pikiran yang membandingkan kenapa. Kenapa kok gua belum?
Iya belum lulus, belum nyari vendor buat resepsi, belum tahu mau ngapain, masih minta ortu padahal pengennya engga, tapi kalau ga minta ga bisa. 

Menurut Aku, buku ini adalah buku ringan yang bisa memberi kita penjelasan bahwa tidak ada istilah terlambat dalam sebuah perbaikan. Perbaikan diri kepada manusia dengan Tuhannya, atau perbaikan diri sendiri untuk melangkah ke depannya. Buat yang lelah kuliah, baca buku rentang kisah. Buat yang masih sekolah, bisa liat gambaran gimana kehidupan kuliah. Mungkin memang buat teman teman yang sudah lelah.

Mungkin yang bisa aku rasain dari tulisannya Gitasav, yakni setidaknya kita harus berdamai dengan diri sendiri. Untuk menerima bahwa tidak semua rencana yang sempurna akan tereksekusi dengan paripurna juga. Karena kita punya Maharaja yakni Tuhan kita yang lebih tahu perkara yang mana baik untuk kita. Jadi memang tugas kita sebagai hamba selesaikan birokrasi dunia untuk mendapat ridha Tuhan untuk kita. Sederhana yang memang tidak sederhana. Tapi yakin, kita bisa. Lantas untuk apa kita dicipta, sudah pasti untuk bisa. Iya engga?



Tidak ada komentar:

Posting Komentar