Emansipasi dan Keyakinan: Selembar Kain yang Sangat Berperan Penting



Emansipasi akan berkaitan erat dengan tokoh “habis gelap terbitlah terang”, pahlawan perempuan Indonesia yang menjadi contoh bagi kaum muda bahwa dengan keterbatasan apapun, perempuan mempunyai kesempatan yang sama dengan laki-laki yakni salah satunya pendidikan. Akan tetapi, emansipasi adalah istilah yang kerap dipakai oleh perempuan untuk menyetarakan hak nya sama persis dengan laki-laki. Sayangnya manusia adalah makhluk yang tidak akan puas, sehingga emansipasipun menjadi alat untuk menuntut kebebasan lebih. Kebebasan yang seperti apa? Yakni kebebasan yang menyangkut dengan selembar kain yang kebanyak wanita belum bisa menerima. Bahwa dengan selembar kain itu, apapun menjadi penghalang. Padahal sudah dijelaskan bahwa kedudukan wanita dalam islam sangatlah dimuliakan. Memang pernyataan sebelumnya sangatlah subjektif. Karena kembali lagi pada lingkungan sekitar yang masih menganggap dengan kain selembar itu. Ada yang merasa bahwa pribadi seorang tidak bisa mengikuti tren zaman sekarang, susah untuk mencari pekerjaan tertentu, dan menghalangi ekspresi diri. Tapi cukupkanlah dengan pemikiran subjektif, karena dengan berjalannya waktu banyak yang peduli dengan kain selembar bahkan tren pun berubah jalur pada kain selembar itu.
Kain selembar apa yang dimaksud? Kain yang menutupi kepala seorang wanita. Banyak istilah untuk menyebutnya dan banyak pendapat tentang bagaimana memakai seharusnya. Ada yang menyebut kerudung, jilbab, hijab, niqab, dan lainnya. Padahal semua yang disebut sebelumnya pun punya arti yang berbeda. Jujur, pertanyaan yang tidak perlu dijawab adalah apakah selembar kain itu menentukan keimanan seseorang? Iya tidak usah dijawab, karena selembar kain itu adalah sebuah wajib yang diberikan oleh Sang Maha, jadi apakah perlu diperdebatkan untuk dicari jawabannya? Sudah jelas, jelas sudah.
Sayangnya, sebagai seorang yang juga wajib dalam memakai kain itu ada rasa idealisme sendiri yang memang tidak bisa dipaksakan. Idealisme mengenai bagaimana seorang berperilaku pun mengimbangi bagaimana mereka berpenampilan. Labelling memang membuat pribadi seorang akan berpikir dangkal tapi labelling juga menentukan baik buruk tindakan seseorang. Apalagi ketika kain menjadi sebuah identitas, maka ketika ada laku yang tak sejalan akan berimbas pada pemakai identitas yang sama. Dan ada satu keluh pribadi – jadikan kain itu sebagai identitas dan alarm, bukan sebagai tameng ataupun topeng. Because most of people judge book by a cover.
Adakah tugas yang harus dilaku pada seorang yang menjadi representatif kain itu? Tidak ada, karena kain itu adalah sebuah wajib mengenai indentitasmu, jadi ketika kau tak pakai identitasmu maka kau pun akan susah berurusan dengan birokrasi surga jika memang surga adalah rumah terakhirmu. Itu saja.
Sebenarnya, kain itu juga adalah masalah pribadi yang menjadi hak dan kewajiban seorang individu khususnya wanita muslim tepatnya. Akan tetapi, yang membuat greget adalah apa yang disebut sebelumnya, bahwa kain itu janganlah jadikan topeng. Entahlah, ada yang mengerti apa yang dimaksudkan dalam tulisan ini-kah?
Memang tidak semua orang peka seberapa penting kain itu, tapi bukankah dengan selembar kain kita bisa tahu bahwa orang yang memakai kain itu adalah juga saudara kita, menjaga diri dari pandangan yang tidak sengaja, bahkan menjaga kaum lain untuk menjaga pandangannya. Bukannya? Memang tidak semua penghargaan didasarkan pada apa yang dikenakan, tapi dengan menghargai diri sendiri orang lain pun akan berusaha untuk menghargai pula. Jadi, beri nilai terbaik pada dirimu sendiri, agar orang lain pun memberi nilai terbaik pada dirimu.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar