Hipokrit : Tak Butuh Laku


Hypocrite

Menjadi salah satu bagian dari orang-orang hipokrit meski dengan kadar yang berbeda. Meski aku pun sedang berusaha amat sangat untuk balik kanan dari kata hipocryte. Karena sadar tidak sadar, kita menjadi layaknya hipokrit dalam keseharian.
Dengan adanya istilah hipokritis, tidak sedikit para karib menolak untuk diberikan saran apalagi menyangkut pakaian, tingkah, dan Tuhan. Bagi mereka, belum tentu orang yang memberi saran atau sekadar mengingatkan lebih baik derajatnya, lebih baik lakunya, dan lebih baik kadar keimanannya. Tapi perlu diingat juga bahwa orang yang sedang terlena dalam sebuah kebebasan, maka akan geram kalau diingatkan bagaimana demokrasi yang tidak kebablasan. Jadi, seorang hipokritis adalah pelupa ulung yang tak tau dirinya sendiri, sedang manusia yang sedang dimabuk kebebasan adalah manusia yang menjadi tuannya sendiri.
Hipokritis menjadi lauk dalam basi basa obrolan di kampusku, sedang hipokritis yang sebenarnya pun sedang ku dicari kejelasannya. Adakah keterkaitan antara filsuf Hippocrates? Tapi tidak sepertinya. Jadi, hipokrit menjadi jurus andalan manusia untuk tidak melihat pada diri sendiri tapi lebih jelas melihat kesalahan orang lain. Secara sederhanya, munafik.
Lalu, adakah yang harus kita sikapi dalam perihal hipokritis tersebut? Adakah manusia yang memang sama sekali tidak hipokrit? Entahlah. Bahkan orang di dekatku pun menjadi bagian dari kaum hipokrit itu. Lucunya, orang akan terlihat hipokrit bagiku ketika mereka menyoal tentang melaku kepada Tuhan. Urusan Tuhan memang yang paling laris dalam obrolan. Mungkin memang kekinian. Sayangnya, seorang hipokrit takan melaku, hanya perlu obrolan-obrolan sendu.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar