Hoax: Perangi Dengan Imun Pemikiran Kritis Milenial Muda Indonesia

sumber gambar :http://www.hoax-slayer.com/images/hoax-catagories-px-1.jpg

Hoax, virus undergroundIndonesia! Dulu, sekarang?

Perbandingan lurus antara penduduk dan pengguna internet di Indonesia sangat memudahkan akses informasi segala sumber. Sayangnya, kemudahan terpaan informasi pun sebanding dengan informasi yang tidak valid sumbernya ataupun datanya. Informasi yang mengandung unsur SARA, provokatif atau pun pencemaran nama baik.
Dalam laporan tahunan Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) 2017, mengungkapkan bahwa 143,26 juta jiwa penduduk Indonesia atau 54,68% dari 262 juta penduduk Indonesia adalah pengguna internet. Peningkatan terjadi setiap tahun contohnya tahun 2016 ke 2017 sebesar 10,56 juta pengguna. Pengguna pun dari berbagai latar belakang pendidikan dan ekonomi. Jika dilihat dari latar belakang ekonomi, 74,62% pengguna internet berasal dari strata ekonomi sosial bagian menengah kebawah. Jadi,  bisa dilihat bahwa internet sudah menerpa semua kalangan di Indonesia dari segala aspek latar belakang, dan ekonomi bukan menjadi kendala penyebaran segala informasi.
Menurut laman kominfo.go.id, laporan databaseTrust+Positif sampai dengan 2016 mencatat konten negatif yang diblokir sebesar 773.339 konten yang antara lain berisi pornografi, SARA, penipuan atau perdagangan ilegal, narkoba, perjudian,  dan radikalisme.
Hoax tidak seperti korupsi dulu yang di bawah meja, tapi seperti sekarang yang sudah di atas meja. Banyak yang tahu bahwa berita adalah hoax tapi dibiarkan saja. Jangan sampai hoax sekarang menjadi seperti sampah di terminal besar Indonesia yang dibiarkan karena sudah menjadi pemandangan biasa dalam keseharian.
Hoax adalah suatu “virus” yang akan memakan pikiran kita dan membuatnya menjadi kerdil, obatnya yakni kita harus kebal untuk menjaga pikiran kita. Dengan menyuntikan imun mengenai bagaimana pintar bermedia, kita bisa menyaring untuk bisa membedakan mana yang fakta dan opini, dan membedakan mana infomasi dengan data yang sah atau data yang dimanipulasi.

 Adakah tugas dan tanggung jawab manusia yang sudah merdeka?

Akan tetapi masyarakat di sekitar kita masih belum bisa menyaring informasi sebelum mereka membagikan kepada orang lain, sehingga semakin gampangnya berita hoax menyebar dari ruang media sosial ke ruang media sosial lain. Ditambah dengan kemudahan teknologi, maka kemudahan terpaan hoax pun gampang sekali diakses oleh kalangan manapun. Nah di sini lah menjadi tugas dan tanggung jawab kita sebagai pengguna media.  Menjadi manusia merdeka pun kita masih mempunyai tugas dan tanggung jawab dalam memerangi hoax yakni jangan sharing sebelum saring.
Kenapa saring sebelum sharing? Karena saking gampangnya tangan kita membagikan informasi tanpa membaca keseluruhan data. Jadi, membuat saringan informasi bukannya tameng informasi. Meski ada yang bilang bahwa terkadang orang yang beruntung adalah orang yang tidak tertepa informasi. Karena sekarang ini banyak orang yang tidak beruntung yang mendapat banyak informasi yang tidak terpilah kebenarannya. Tapi tidak mungkin kita tidak tertepa informasi,  daripada membuat tameng pada pribadi kita, lebih baik buat saringan untuk diri ini.

Kritis, jurus perang melawan hoax!

Melawan hoaxadalah pertarungan yang berimbas kepada pemikiran masyarakat Indonesia. Masyarakat mudah di-steer khususnya yang berkaitan dengan SARA. Banyak bermunculan berita ala-ala di media sosial bahkan pada Instagram yang dasarnya sosial media untuk membagikan gambar.
Bedanya dengan masyarakat kini dengan dulu,  masyarakat sekarang sangat aktif dalam hal pengguna media sosial yakni 87,13% menurut laporan hasil survey APJII 2017. Sedang media sosial bukannya tidak punya fungsi kontrol sosial, tapi jika dibandingkan dengan media massa baik cetak maupun elekronik, melalui media sosial semua orang bisa menjadi sumber sekaligus humans instrument dalam sebuah berita. Bagaimana tidak? Ketika hoax diubah menjadi sebuah bisnis yang feedbacknya  tentu saja materi, siapa yang tidak mau berlomba-lomba dalam mencari keuntungan. Hanya modal internet atau bahkan wifi gratis dan tinggal sebar di sosial media yang tidak  perlu berbayar seperti Facebook, Instagram, Youtube, Line dan WhatsApp. Kita membuat sendiri berita, kita yang menyebarkan, dan kita dapat untung. Sangat mudah menjalankan bisnis hoax.
Namun tidak  mudah untuk melawan hoax seperti halnya membuat hoax. Akan tetapi,  kita pun mampu melawan hanya dengan bermodal internet bahkan wifi gratis. Asalkan kita mau dan tahu bukan hanya mau tahu saja. Mau untuk menyaring informasi dan tahu bahwa hoax adalah informasi yang mengerdilkan otak kita. Dengan mau kita akan tahu segala.
Apa yang kita lakukan? Mau dan tahu. Yakni mau belajar mengenai literasi digital dan tahu pemanfaatannya, mau memanfaatkan aplikasi Hoax Analyzer besutan anak bangsa, dan tahu mengenai adanya UU ITE Nomor 19 Tahun 2016 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik.

Matikah hoax? Gagal, sukses, atau malah gagal paham?

Perkara hasil dalam melawan hoax pun sebanding dengan usaha kita mengisi amunisi perang yakni dengan komposisi mau dan tahu bukan mau tahu saja. Semakin kita memenuhi amunisi kita dengan  berpikir kritis bukannya kreatif, maka kita akan tahu mengenai infomasi yang kredibel, sehingga kita bisa dengan mudah membedakan mana infomasi yang valid dan infomasi yang dimanipulasi. 
Pun peka adalah salah satu amunisi untuk melawan hoax. Adakah berita dalam media nasional yang biasa kita lihat dalam sebuah laman web ataupun cetak yang provokatif? Adakah informasi yang bagus adalah infomasi yang sengaja menimbulkan opini SARA? Kita akan peka dengan sendirinya jika memang berita yang penulisan judulnya pun dibuat kreatif bukan kritis. Bahkan hidup mempunyai pegangan, negara mempunyai ideologi, agama mempunya alkitab, dan hoax mempunyai kritis dan peka dalam amunisinya




g



Tidak ada komentar:

Posting Komentar