Mayoritas Bertuan Kuasa



Aku tidak bisa bayangkan menjadi bagian sejarah dimana Pramoedya teriak merdeka saja bakal dibuikan dengan paksa dan tanpa aba-aba. Bahkan aku tak bisa bayangkan dimana warga pribumi saling makan tulang saudara bumi pertiwi hanya untuk selembar goni.  Aku tidak bisa bayangkan ketika aku lahir pada masa sebelum teriak merdeka siapapun bisa lenggang bebas di aspal jalan.
Entah bagaiman mereka, dari pena, otot, bahkan nyawanya harus libas demi nama Republik Indonesia. Aku tidak bisa bayangkan ketika budaya dipegang erat beratus tahun oleh sebuah bangsa. Budaya memalak sesama rakyat untuk ditindas. Aku tidak bisa bayangkan para pejuang menghadapi birokrasi tutup mulut-duit berkoar.
Sebagai manusia yang manusiawi aku malu hampir mati sampai memuntah darah rasanya. Aku malu berkaca pada ketidak kuasaan diri. Menjadi bagian hukum mayoritas bertuan kuasa. Aku tidak tahu bagaimana menarasikan diri ini kepada anak cucu nanti.
Sedang sekarang, orang-orang bodoh angkat bicara dan orang-orang pintar seraya bungkam. Sedang dalam bungkamnya itu ada yang terbungkam karena kuasa, ada yang bungkam karena lelah, dan ada yang terbungkam karena keadaan. Aku butuh Bung Tomo! Berilah kami si Pemuda Indonesia semangat dalam sebuah kepasrahan ketika sejarah yang ku sebut di atas berulang.
Petani diusir dari bumi pertiwi. Kedok agama membinasakan kehidupan manusia. Semua caci maki menyalahkan golongan penguasa. Yang sudah kaya bertambah kaya dengan bunga depositonya. Yang miskin semakin miskin dengan bungan hutangnya.
Nenek moyang dari dulu berkuasa di jagad samudera, pun dari dulu juga petani adalah tuan dari bumi pertiwi. Lalu datang manusia dibalik kabut yang singgah dari layarnya, terpincut harta karun Indonesia. Mampir sana sini, lalu betah bagai pemilik tahta. Merampas tanah mematikan tuannya. Lalu dengan bambu runcingnya, rakyat jelata lah di gardu terdepan yang rela dikoyak peluru panas yang merobek jantung mereka. Para lelaki mati, para wanita hidup sendiri.
Lalu, kau ulang lagi sejarah menyakitkan itu pada bangsamu? Rakyatmu? Lalu darimana nasi yang akan kau makan dalam bertahun nanti ketika sawah di lindas dengan aspal panas? Kamu belum pernah menjadi bagian minoritas terinjak dalam sebuah bangsa yang katanya kesejahteraan bagi semua warga? Main-mainlah ke tanah kami! Sial, kami lupa. Tanah kami yang sedang kami perjuangkan itu!
Benar, dunia sekejam itu bagia seorang hamba sahaya. Aku tahu bahwa bangsa ini masih sangat protektif dengan budayanya. Budaya banci yang hanya memeras sesama rakyatnya sendiri. Peras peras peluh keringat, yang nanti dijual jadi minyak.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar