Menjadi Lebih Baik dengan “Berpindah”


source : http://kangeep.com/files/uploads/2016/12/Life-Love-Quotes-Time-To-Move-On.jpg

Dalam masa peralihan remaja ke dewasa muda, seorang akan lebih sering berpikir mengenai pribadi yang seperti apa akan dibentuk ke depannya. Mungkin tidak berlaku pada semua orang, tapi itu berlaku pada pribadi saya. Dalam masa putih abu kebanyakan orang akan lebih berpikir bagaimana mengejar cita-cita ke perguruan tinggi yang didambakan, namun ketika sudah berstatus menjadi seorang maha yakni mahasiswa, mereka mulai mencoba berpikir lebih serius atau bahkan karena tuntutan orang disekitar yang  terlalu serius.
Masa mahasiswa adalah masa yang sangat fluktuatif seperti grafis saham setiap harinya. Apalagi menjadi mahasiswa ilmu sosial yang setiap harinya diisi dengan diskusi di warung kopi. Obrolan yang sama setiap waktunya. Dari masalah IPK, nilai sosial masyarakat sekarang, politik, dan paling dahsyat adalah obrolan agama dan Tuhan. Kenapa dahsyat? Lucunya, ketika mahasiswa entah mahasiswa baru atau mahasiswa lama, mereka akan bernarasi mengenai agama dan Tuhan menurut akal mereka. Sayangnya, akal mereka masih seterbatas itu. Memang ini sangatlah subjektif dari pengalaman belaka, tapi percayakah kalian bahwa individu akan mengikuti tren yang menurut mereka sedang populer dikalangan mereka? Dengan dasar “kan mahasiswa”. Namun, tren seperti apa yang dimaksud? Tren mode pakaian tentu saja, tapi yang lebih anehnya adalah tren agnostik.
Agnostik adalah penyebutan bagi manusia yang tidak mengakui adanya Tuhan, bagi tongkrongan kami. Istilah agnostik dan atheis pun saya tidak bisa membedakan arti yang sepenuhnya karena yang saya tahu keduanya adalah manusia yang tidak percaya adanya keberadaan Tuhan. Namun, percayakah bahwa ketika ada pribadi yang hanya membaca buku hanya satu, belum mendalami ke kitab apapun, dan buku itu adalah buku pemikiran orang barat, lalu mereka dengan cepat mengaku bahwa Tuhan tidaklah ada. Tidak sedikit pribadi yang seperti itu, mengaku agar terlihat keren, mengaku atheis agar terlihat manusia cerdas, mengaku atheis karena memang tak mau melaku shalat.
Apa yang disebut di atas memang sebuah fenomena yang melekat pada mahasiswa namun tidak semua mahasiswa tentunya. Namun bukan berarti saya tidak bisa berteman dengan mereka, dengan adanya obrolan seperti itu malah membuat saya bertanya mengenai ke-Islaman saya. Bagaimana saya bisa menjelaskan pada mereka bahwa Allah SWT adalah Esa. Bagaimana saya melaku pada mereka akan mewakili agama saya. Apa yang Saya ungkapkan akan melihat seberapa dalam pengetahuan saya pada agama saya. Bagaimana menjawab pertanyaan seberapa kamu meengenal Tuhan. Memang, pertanyaan yang terakhir adalah pertanyaan sulit untuk diri saya sendiri.
Dengan pertanyaan yang sebenarnya menurut saya tidak perlu diungkap karena bagi saya, agama adalah perihal keyakinan, jadi ketika mereka tidak yakin ya sudah sebatas itu, tapi jangan membuat orang lain tidak yakin dengan agamanya. Mungkin akan terkesan tidak peduli, yang penting saya Islam. Iya, dulu memang seperti itu. Saya merasa kecewa ketika saya tidak bisa menjawab pertanyaan teman saya dan malah membuat mereka memilih jalan pintas untuk tidak percaya dengan Allah. Tapi dengan pengalaman itu saya lebih ikhlas dalam belajar. Kami masih sering berbincang mengenai topik politik, fashion, pendidkan, dan cinta tentu saja. Meski sejujurnya, saya ingin sekali menjelaskan bahwa Islam adalah agama sempurna. Apalagi mengenai masalah kain penutup kepala para wanita yang amat sangat asyik untuk diperbincangkan dalam obrolan kami.
Jilbab menjadi topik selama setahun lebih bagaimana pentingnya kain penutup kepala itu. Ada yang menganggap bahwa kain itu akan mengahalangi kita dalam mencari pekerjaan tertentu, menghalangi kita dalam mengekspresikan diri, dan tidak membuat kita bebas. Dari alasan itu, pun ada karib yang akhirnya melepasnya setelah sekian belas tahun memakainya.
Seringnya saya berpikir, adakah tugas saya dalam obrolan-obrolan yang sering mencuat khususnya dalam Islam dan Tuhan? Tentu saja ada, hanya saja saya tidak tahu bagaimana untuk berperan. Karena biasanya orang diberitahu baik-baik, mereka malahan marah dan menganggap bahwa kita mencampuri urusan pribadi mereka. Memang seseorang yang sudah tertutup hatinya mau diapakan juga tidak ingin berubah. Dalam Quran, mereka adalah golongan orang tertutup hatinya. Jarang memang saya sebelumnya untuk membaca Al Quran dengan terjemahan, namun kenapa jarang? Pun 3 tahun lalu akhirnya memulai membaca Alquran layaknya buku pelajaran yang harus dibuka tiap harinya. Dan di surat  Al baqarah ayat 6 dan 7, dituliskan bahwa sesungguhnya orang-orang kafir, sama saja bagi mereka, kamu beri peringatan atau tidak kamu beri peringatan, mereka tidak juga akan beriman dan Allah telah mengunci-mati hati dan pendengaran mereka, dan penglihatan mereka ditutup. Dan bagi mereka siksa yang amat berat.
Bisa disebut juga karena ayat diataslah yang begitu menghujam dan lebih membuka pemikiran. Waktu itu, masih banyak orang disekitar yang peduli mengenai cara berpikir liberal saya dan bagaimana menyikapi ilmu yang tidak di saring dengan dasar Islam. Dengan membaca arti dari Ayat itu, hanya satu yang saya pikirkan dari isya samapai subuh. Apakah saya bagian dari golongan itu? Yakni mengenai orang yang tertutup hatinya. Dan saya tidak ingin saya dan karib saya menjadi golongan yang seperti itu.
Nah tugas kita sebagai umat muslim dalah saling mengingatkan dan mengajak. Perintah itu sudah tertuang dalam Q.S. Ali Imran ayat 104 yakni , dan hendaklah ada di antara kalian segolongan umat yang mengajak (manusia) kepada kebaikan, menyeru kepada yang ma’ruf dan mencegah kemungkaran, dan mereka itulah orang-orang yang beruntung. Dibadingkan dengan orang yang pintar atau apa, bukankah orang yang beruntung adalah hal yang paling baik?
Namun bagaimana kita mengajak kebaikan ketika citra diri adalah orang yang biasa? Maka dari itu, menjadi lebih baik dengan berhijrah adalah hal yang harus dilakukan. Kenapa harus? Karena jangan sampai menjadi orang yang hipokrit, yang hanya mampu untuk menyuruh bukannya mengajak, sedagkan pribadi masihlah dangkal dalam berilmu.
Hipokrit pun sama asiknya dengan pembahasan kain penutup bagi sang puan. Dalam subjektif saya, saya bukanlah orang yang berpikir dangkal akan hal, bukan juga yang suka dengan provokasi yang mengatasnamakan ke-Tuhan-an. Jadi, menurut saya, beragama memang harus memakai akal. Hanya pertanyaan yang sering mampir tiap harinya. Subjektif sekali, tapi ada apa kebanyakan dengan karib yang berhijrah mengajak dalam kebaikan namun mengkomunikasikan dengan membandingkan hal yang tidak baik? Maksutnya? Manusia memupnyai akal, jadi pun manusia akan lebih mudah untuk melihat hal yang hipokrit. Ketika ia menyerukan untuk berbuat baik,bukankah dengan kata yang baik pula? Bukan dengan provokasi atau komparasi? Untuk apa “berpindah” pada yang lebih baik jika mulut tidak ikut berpindah? Dulu memang tidak se selowitu, namun sudah lama juga untuk lebih menerima cara mereka yang memang ingin mengajak saudaranya dalam hal lebih baik. Pun karena beragama juga mempunyai akal, dan yang pasti agama tidak bertolak belakang dengan kemanusiaan.
Jadi, jangan benci manusia yang baru berhijrah, karena dangkalnya sebab dalam kurangnya penyampaian komunikasi mereka. Dan ingat lagi, apakah kamu bagian dari golongan yang mati hatinya, sampai-sampai teman sendiri menasehati rasanya diprovokasi atau malah komparasi.

“Sesungguhnya agama yang benar di sisi Allah hanyalah Islam.” (QS. Ali Imran: 19)





Tidak ada komentar:

Posting Komentar