Wirang



Wirang menjadi incaran warga desa setelah matinya satu bagian dari warga yang dilibas habis oleh cakar dan taring mulut Wirang, harimau sumatera yang ditakuti warga. Pasalnya, harimau kini bukan menjadi hewan yang disembah dan ditakuti keberadaannya sehingga warga desapun tak peduli dengan kelangsungan hidup mereka. Lama sudah tidak mendengar begitu sakralnya harimau yang menjadi salah satu dewa dalam jagad rimba Sumatera. Puluhan tahun berlalu, alam rusak oleh zaman. Sedangkan zaman hanya waktu berlaku pada manusia, jadi mau tak mau manusia memang bertanggung jawab pada rusaknya alam.
Waktu kakek buyut masih hidup, dia selalu berkata bagaimana Desa Cangking terkenal dengan dengan desa yang hidup berdampingan dengan alam. Tak ada asap pabrik kapur, hanya asap rokok lintingan para lelaki yang jaga ronda atau hanya duduk sore ditemani teh hangat saja.
Dulu, kau bangun pagi untuk sekolah saja semangatnya luar biasa. Bagaimana tidak, kabut yang dingin perlahan diusir sama matahari yang menjadi penghangat para petani memacul di sawah. Mengantar kalian menyebrang sungai dan melewati pategalan sawah untuk sampai ke sekolah dasar. Kalau kau beruntung, nanti bakal bertemu mesin sawah yang hanya satu orang di desa yang punya, lainnya masih mengandalkan kerbau dalam membajak sawahnya. Yang akhirnya kau akan berlari pada menit terakhir untuk tidak terlambat ke sekolah karena kau terlalu terbuai dengan traktor sawah bermesin diesel itu.
Sampai sekolah, kau akan menunggu waktu istirahat untuk membuka bekal makan siangmu sembari bercerita harimau Wirang yang paling terkenal. Yang katanya sudah ratusan tahun umurnya. Yang katanya pada malam bulan purnama tanggal 12 bulan 12 ia akan ronda keliling desa untuk mencari mangsa. Dan akhirnya, setiap tanggal 12 desa cingkang selalu membuat pagelaran seni tabuh alat musik seharian untuk membuat Wirang tidak mendekati Desa Cingkang. Perayaan itu adalah perayaan menjaga keseimbanga ekosistem lingkungan agar sawah tetap panen, sungai masih menjadi tuan rumah ikan dan udang, serta rimba belakang masih tidak terjamah oleh tangan nakal. Ceritamu puluhan tahun lalu akan dinarasikan seperti itu. Ketika para pemuda masih gasik berangkat ke sawah. Bukan gasik ke pabrik kapur yang lama-lama melahap setengah gunung.
Ketika kau pulang sekolah dalam terik yang menyakiti kulit dan membuat engkau lebam, kau masih bisa bersapa dengan para emak yang sedang mengaso di gubuk sawah. Kalau kau beruntung, kau juga akan ditawari air minum dan ubi ungu rebus terbaik yang akan menggiur engkau untuk mampir sebentar  timbang kau langsung pulang kerumah karena kau tahu tugas mencari rumput untuk kambing di belakang rumah sudah menunggu.
Tidak perlu ada rasa takut kecuali bunyi gluduk kala hujan datang dengan deras nya. Tidak seperti sekarang ketika sawah sudah dilibas aspal. Kebun sudah jadi perumahan. Bahkan rimba kini sudah biasa dijamah karena orang butuh kayu untuk diperjual belikan. Mungkin dulu orang akan mampir di rimba bagian pinggir karena takut sama Wirang. Kini, Wirang pun sudah turun popularitasnya dan tidak dipedulikan lagi apalagi dengan tabuh-tabuhan alat musik di purnama setiap 12 itu. Bahkan, yang dulunya upacara merapal doa pun sudah tidak dilakukan bertahun lamanya.
Warga kini lebih logis katanya, tak perlu upacara atau rapal doa hanya karena harimau sumatera. Sayang, Wirang yang gagah kembali dengan cakar yang merobek bagian dari mereka. Yang dulu merapal mantra karena upacara budaya, mungkin kini merapal doa kerena kondisi yang terpaksa.
Memang, manusia pura-pura lupa saat bahagia, dan memohon baliknya Tuhan saat tidak kuasa. Dulu, Wirang mana bisa melangkah mendekati desa. Kenapa warga sebut harimau itu wirang?Kau lupa atau tak tahu? Wirang dalam bahasa pulau seberang adalah malu.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar