Nad...


sumber gambar: https://twitter.com/sarlisart/status/1003758256114655232 
Karibku terkapar luka yang terlalu menyayat hati ku. Ia terlelap sunyi dan diam abadi. Mereka ditelantarkan oleh perasaan mereka sendiri. Lalu luka menjadi piara tiap harinya yang tumbuh subur dengan lagu putus cinta yang didengarkan setiap hari juga. Bahkan bisa saja tak bisa ia bedakan batas kenangan, khayalan, dan kenyataan.  Ratapan tiap malamnya serasa mengancam. Mengancam kami yang di sini ketar ketir menunggu ia pulih kembali. Tapi untungnya, dia sudah baik-baik saja. Sangat baik baik saja. semoga.
Dalam warung kopi tempat biasa kita mengumbar dosa, aku berdua dengan karib yang bulan depan akan resign kerja. Hanya bercerita ringan tentang kegiatan kita hari ini. Sedih sekali, malam minggu berdua duduk di warung kopi tapi hanya pesan es coklat dan es green tea. Dalam obrolan kami terselip karib kita yang  patah hati.
Aku ingin kau berdamai dengan masa lalu. Karena kau selalu kembali dalam tidak utuh. Mereda dan balik lagi dengan tidak utuh. Begitu terus selanjutnya. Mungkin kau mencoba untuk tidak perduli. Tapi, aku ingin kau dalam keadaan utuh agar tetap bisa waras bahwa dunia tidak berhenti pada semua keaadaan yang terpuruk. Meski kita juga bertanya, bagaimana agar menjadi tetap utuh dalam keadaan yang jelas tidak utuh?
Aku cemas kalau kau misal tiba-tiba menghilang dalam kota saat bulan memutih. Sedang kau adalah manusia yang mampu memberi bahagia pada manusia-manusia dengan obrolanmu. Sedang kenapa kita tidak rayakan saja pesta lajangmu dengan tema paling meriah? Dengan tak perlu khawatir dengan riuh yang bisa saja menggannggu tetangga? Dengan begitu kau tahu bagaimana harumnya semerbak kebebasan. Setelah letih nanti, tinggal kau buat surat lamaran kerja di kota besar, atau bisa juga online. Kalaupun tak ada yang bekerja sama, sementara tunggulah engkau dilamar seseorang. Lagian urusan lamar-melamar tidak menjadi batas kebebasan dan berakhirnya hidup seseorang. 
Oh iya, patah hatimu jangan buat patah parumu. Kini kau lebih giat menerima asap putih dalam ronggamu. Aku tahu kamu tidak abai, tapi raga juga butuh bahagia. Gimana kalau kita main di sungai, kau jadi skipper lalu aku jadi rescuer? Atau paling maksimal ya aku hanya dayung kanan kiri, dayung maju dayung mundur. Atau main kasti saja? Dalam lembah hijau gunung di belakang kampus kita. Kalau lelah, tinggal tiduran dan guling-guling dirumput kering. Tak usah takut kotor, kita juga bukan manusia yang begitu bersih. Malamnya seperti biasa. Dirikan tenda lalu buat api kecil saja. Untuk bakar sosis, paprika, dan bawang bombay misalnya. Atau urusan bebakaran kau yang lebih tahu.
Saat menjemput tengah malam nanti, kita sudah siap hidangan dan pastinya buka obrolan. Kalau butuh musik, nanti aku bawa gitar. Aku masih mampu kalau hanya kunci dasar. Atau kalau kau butuh obat penenang nanti aku bawa Al Quran. Kita belum pernah menyimak atau melantunkan pada malam di  tengah hutan kan? Kalau tidak dengarkan saja aku melucu, aku mampu buat tawa dalam hari-harimu. Bagaimana?
Sungkan tak perlu, karena aku nanti juga butuh banyak sumbangan tenaga. Kan kau tahu juga aku manusia dengan stok air mata. Tapi nanti kalau aku sendu seperti kamu jangan bawa aku ke lapangan buat main kasti, kan kita sudah lakukan itu. Boleh menawar tidak? Bawa aku pada laut biru dengan pasir putih. Ombaknya jangan terlalu besar, nanti bisa menggulung raga yang sedang hilang perasaan. Lalu duduk dalam ayunan buatan dan minum susu strawberi kesukaan. Begitu.










4 komentar: