Perihal Mantan

sumber gambar : https://twitter.com/sarlisart/status/1053478824443183104


Apakah saya harus bersyukur atau bagaimana? Untuk masalah ini sepertinya saya tak harus berusaha melupakan kenangan. Atau berusaha untuk bisa berpindah mengenai perihal mantan. Tak perlu saya peras air mata atau peluh untuk mencari kesibukan seperti membaca buku, menulis, atau menonton film. Karena sejak dulupun saya terlalu sibuk membaca buku, menulis, bermain, dan menonton film untuk punya hal yang menjadi judul ini. Dalam keadaan seperti inipun sering dihujam kabar mengenai perihal mantan. Seperti  beberapa karibku yang belum lama ini mantannya datang membawa kabar pernikahan. Atau hati karibku masih terbawa oleh mantan. Oh jadi ingin berorasi perihal mantan. Iya mantan teman.
Ada dua kaum menurutku yakni lelaki dan ikhwan. Tapi itu hal yang bodoh karena saya hanya menggolongkan 2 jenis. Padahal dua kata itu sama artinya. Memang terlalu bias dan terlalu subjektif, tapi lanjutka saja. Saya kira jika ia kaum “lelaki” maka ia akan lenggang saja bertegur sapa dengan wanita. Tapi kalo jenis “ikhwan” saya kira dia hanya akan bertegur sapa sebutuhnya. Tak perlu ia basa basi warung kopi tiap hari dalam sosial media. Apakah telfon atau video call. Sedangkan jenis yang satu lagi,yang bebas lenggang,  ia bebas mau berekspresi bagaimana ia. Tapi bukan salah saya juga karena saya pun disetir opini bahwa orang yang menjaga akan berlaku seperti yang saya ungkit sebelumnya, hanya akan bertegur sapa sebutuhnya. Saya kira main saya sudah jauh dan pulang saya sudah pagi. Tapi kalau berkaitan hal yang seperti ini masih saja tidak mengerti. Dan yang pasti, saya hanya tersetir opini. Itu saja.
Tapi itupun berlaku pada pada karib wanita juga. Saya kira ada korelasi antara penampilan dan perilaku. Tapi nyatanya opini itu berbanding terbalik. Meski tidak bisa dipukul rata semua. Bahkan sampai pernah saya ucap lantang.
Bagaimana ya?Kadang ingin mengadili seorang yang pikirannya dangkal. Tapi pun saya hanya manusia dengan otak kapasitas rata-rata. Kenapa perihal yang lebih penting hanya di lihat dari kulitnya. Laksana  gastropoda yang hilang cangkangnya. Untuk apa pagar rumahmu ketika kau tak peduli siapa yang bertamu. Secara lisan berdalil lancar.  Beda laku di belakang layar. Itu munafik kan? Setidaknya isi otakmu, perbaiki lakumu, jaga lisanmu. Bukankah itu cara sederhana untuk menjaga. Untuk apa pura-pura?
Kau sudah menutup dirimu dalam balutan baju taqwa yang paling Tuhan sukai. Tapi di belakang layar hal itu tidak bermakna. Karena kau berlomba terlihat syar’i di depan manusia. Kan jadi greget!
Dan ini hanya sebagain kecil saja dan yang greget itu bagaimana ya? Maksudnya, kan wanita kini tak usah menjadi seorang layaknya Khaulah binti Azur. Seorang wanita dengan pakaian taqwa yakni dalam balutan kain hitam yang menyelimutinya namun ia menghunus pedang dan turun ke medan perang. Yang saya tahu, sekarang ini hanya selaraskan laku dan lisan. Tapi ya bisa saja mereka (bisa juga saya) masih berproses, anggap saja seperti itu. Berproses saja sampai mampus! Sampai mampus hiasi cangkangmu dibandingkan isi otakmu!
Perihal mantan yang ku deskripsikan adalah mantan yang di atas. Mantan perilaku. Yang dulu biasa, sekarang lebih menjaga misalnya. Bukan mantan pacar atau mantan kasih. Kalau urusan itu, sudah dijelaskan karena saya terlau sibuk membaca buku, bermain, belajar menulis, dan menonton film. Dan memang itu hanya dalih pembenaran.
Dan pesan yang sangat khusus untuk karib kesayanganku yang berulang lahir setiap bulan November tanggal 22. Mengenai pilu yang kini menjadi makanan halalmu sehari-hari. Dalam kabar yang selalu menghujam dan menghancur dirimu dalam berantakan, saya sangat bersyukur kau masih bisa ingat penciptamu. Semoga bisa tetap belajar untuk kuat karena saya tahu kau dulu dalam keadaan utuh namun kau kini  kembali dalam keadaan rapuh. Hanya ingat saja bahwa berusahalah untuk jangan beri manusia rasamu yang penuh karena sayang saja kan, padahal itu adalah hadiahmu untuk masa depanmu. Bersyukur Allah tidak angkat kaki dan meninggalkanmu dalam keadaan sepi. Kau pantang berpulang dalam keadaan yang semrawut, dan saya tahu itu! Ku tunggu seulas senyum ikhlasmu yang pasti ditunggu oleh keluarga besarmu. Jangan mudah terhasut dengan semua keadaan yang selalu mampir untuk memikirkan seorang yang berstatus dalam judul ini. Yang saya ingin, kau bisa menjemput hari lahir mu yang dalam beberapa hari ini dalam keadaan yang sehat dan waras. Kau ingin apa? Nantu aku suguhkan apapun yang ada.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar