Indonesia (Selalu) Darurat Sampah




sumber: https://mmc.tirto.id/image/2017/04/21/BumidanPlastik2.jpg 
Sampah sudah seperti teman yang tumbuh semenjak kecil sampai “dewasa”. Semakin “dewasa” sampah semakin banyak dan membludak. Tidak seperti dulu waktu kecil, sepertinya sampah masih bisa dikelola. Sedang sekarang? Semakin “dewasa” sampah, semakin memberikan prestasi pada Indonesia sebagai negara terbesar ke dua penyumbang sampah plastik di dunia. Prestasi itu didapatkan karena Indonesia setiap harinya menghasilkan sampah yang jumlahnya besar namun susah untuk di daur ulang. Contohya, yakni sampah warga Jakarta sebagai Ibu Kota Indonesia. Menurut data penelitian Wasteforchange dalam Company profile Wasteforchange (2015),  bahwa setiap hari warga Jakarta menghasilkan 6500 ton sampah atau setara dengan 25 pesawat Boeing 747,  sampah warga Jakarta setiap hari dapat menutupi 4 lapangan sepak bola dengan tinggi 1 meter, serta 79% sampah Jakarta dikirim dan diolah di TPST Bantar Gebang Bekasi dan 21% sisanya tidak terangkut dan terbengkalai sampahnya.
Dari data tersebut, Indonesia belum bisa melakukan distribusi merata untuk pembuangan sampah, buktinya sampah Jakarta saja dilokasikan di TPA Bantar Gebang. Selain masalah pendistribusian yang tidak merata, sampah yang bercampur menjadi masalah utama di Indonesia. Sampah bercampur yakni  sampah yang tidak terpilah jenisnya, contohnya saja sampah organik namun terdapat sampah plastik. Hal ini sering ditemui di mana saja, bahkan di ranah kampus sebagai tempat pendidikan. Sampah organik malah berisis plastik, dan hal tersebut seperti sudah biasa dan menjadi budaya. Banyak anggapan bahwa yang penting sampah dibuang di tempatnya bukan dipilah sesuai jenisnya. Padahal, pilah sampah adalah solusi agar sampah yang membludak di setiap TPA di Indonesia bisa dikurangi.  Dengan memilah sampah sesuai jenisnya, sampah organik dapat dikurangi dengan mendaur ulangnya sebagai pupuk dan sampah plastik dapat didaur ulang dengan menjadikannya sebagai bijih plastik. Dengan begitu, sampah yang ada di TPA tinggal sampah residu yang tidak dapat dimanfaatkan kembali. Apalagi pilah sampah dilakukan setiap pribadi, pasti Indonesia sudah tidak jadi negara berprestasi dalam ranah penyumbang sampah terbesar dunia.
Urgensi permasalahan sampah ini harusnya sudah melekat diurat nadi, bukan membiarkannya dalam kehidupan sehari-hari. Bahkan data sampah plastik Indonesia menjadi perhatian mata oleh presiden bank dunia.  Ditambah dengan data mengenai ikan paus sperma yang mati perariran Wakatobi bulan Novemebr lalu karena di dalamnya terdapat sampah plastik 5,9 kilogram beratnya. Begitu parahya masalah sampah di Indonesia, bahkan data sampah plastik Indonesia menurut data yang dipublikasikan dalam laporan sintesis pada April 2018 dengan judul Sampah Laut Indonesia melalui lamam documents.worldbank.org,  menyatakan bahwa pada tahun 2010 Indonesia memiliki populasi pesisir sebesar 187,2 juta yang tinggal dalam jarak 50 km daripesisir dan setiap tahunnya menghasilkan 3,22 juta ton sampah yang tak terkelola dengan baik, dan diperkirakan mengakibatkan kebocoran 0,48-1,29 juta ton metrik sampah plastik per tahun ke lautan.  Dalam laporan tersebut, diperkirakan bahwa saat ini sekitar 85.000 ton sampah dihasilkan setiap hari di Indonesia, dengan perkiraan kenaikan hingga 150.000 ton dihasilkan per hari pada tahun 2025, yakni suatu kenaikan sebesar 76% hanya dalam kurun waktu 10 tahun.
Dalam perkiraan sampah Indonesia yang semakin meningkat presentasenya, semakin membutuhkan “perawatan” yang sempurna.  Anggap saja Indonesia sedang sakit dan butuh perawatan. Sedangkan untuk menyembuhkan sakit,  Indonesia butuh obat  seperti kebijakan yang semakin tegas, partisipasi masyarakat dalam mengelola sampah yang semakin ciamik, dan tentu saja isu permasalahan sampah yang harusnya sudah menjadi agenda publik. Agar perawatan berjalan sempurna, partisipasi masyarakat memang solusinya karena semakin hari sampah tidak akan berkurang pasti, dan hanya akan bertambah setiap harinya. Sedangkan partisipasi masyarakat yang harus dilaksanakan yakni mengelola sampah karena sudah menjadi tugas para generasi bangsa Indonesia.
Mengelola sampah memang keharusan bagi setiap warga negara sesuai dengan UU RI nomor 18 tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah. Namun mengelola sampah yang menjadi solusi urgensi sampah Indonesia adalah yang seperti apa? Bukankah buang sampah di tempatnya sudah tepat? Tidak. Buang sampah di tempatnya bukan mengelola sampah, tapi hanya menaruh ke tempat sampah. Mengelola sampah yakni dengan prisip 3R (reuse,reduce, recycle), yakni tidak menggunakan kantong kresek tapi gunakan kembali kantong belanja, kurangi air kemasan dalam botol dan lebih baik membawa botol minum, dan daur ulang benda yang dianggap sampah menjadi benda yang menambah nilai guna. Dengan menerapkan prinsip 3R dalam keseharian, sampah yang dihasilkan setiap individu di Indonesia akan berkurang dan sampah akhir yang berada di TPA pun akan berimbas pula. Berimbas pada jumlahnya yang semakin berkurang dan jenisnya yang sudah terpilah dengan tepat. Buktinya, menurut data survei yang dilakukan oleh Dietkantonglastik  dalam lamannya, dengan penerapan kantong plastik berbayar sejak 21 februari 2016 disetiap retail di Indonesia, dalam satu tahun saja sudah mengurangi penggunaan plastik sebesar 40 persen.  Apalagi dengan penerapan prinsip 3R oleh setiap individu di Indonesia, bisa saja prestasi Indonesia berbalik menjadi urutan ke dua sebagai negara penyumbang sampah terendah di dunia.
Urgensi masalah di Indonesia memang sedang meninggi. Sedangkan masalah sampah atau bahkan sampah plastik memang harus ditindaklanjuti sejak dini. Jika penanganan sampah yang sekarang tidak jalan, bagaimana nasib sampah yang dihasilkan dihari depan. Bahkan menurut laman CnnIndonesia dengan judul Jenis Sampah dan Lama Proses Penghancurannya, waktu yang dibutuhkan dalam mengurangi sampah kantong plastik biasa membutuhkan waktu 10 sampai 12 tahun untuk terurai dan untuk sampah botol plastik lebih lama lagi. Hal tersebut dikarenakan polimer yang terkandung di dalamnya lebih kompleks dan lebih tebal. Sedangkan styrofoam yang sering digunakan di Indonesia, membutuhkan waktu 500 tahun untuk bisa hancur sempurna. Oleh karena itu, semoga bangsa Indonesia bisa menebus obat untuk perawatan Indonesia yang sedang sakit, yakni obat dengan komposisi partisipiasi masyarakat yang aktif dalam mengelola sampah dalam kehidupan sehari-hari.

11 komentar:

  1. Sampah juga bencana Nasional, seraam seraaam

    BalasHapus
  2. Makanya orang yang paling top itu adalah si abang tukang sampah, coba bayangkan kalo ngga ada dia :(

    BalasHapus
  3. sayang banget masih banyak masyarakat yang anggap masalah sampah tuh sepele..udah kena bencana malah nyalahin pemerintah bukannya instrospeksi huhu

    BalasHapus
  4. Sudah selayaknya kita pun sebagai warga, pandai2 memilah sampah dan menggunakan produk yang ramah lingkungan dan mengurangi pemakaian botol plastik. Ayo bawa tumbler eeaa

    BalasHapus
  5. Jumlah sampah tiap harinya udah melebihi jumlah penduduk di Indonesia ya. Harus mulai sadar dan menanamkan disiplin tentang sampah ke anak aku nih sejak dini sebagai langkah awal.

    BalasHapus
  6. Udah dipilah dirumah.. ehh karna tukang sampah datangnya seminggu sekali..jadinya yang ditong suka diacak2 pemulung jadinya rarujit deh

    BalasHapus
  7. Teh aku pernah liat ada bule foto pake drone pacarnya rebahan di pantai penuh sampah dan...itu di Bali :((((( Dua permasalahan ya teh kelola sampah dan budaya masyarakatnya. Pendidikan soal buang sampah harus banget didoktrin soalnya memang secuek itu orang Indo sama sampah zad

    BalasHapus
  8. Sampah ini udah mengerikan banget ya. Sampah dimana-mana, sampai kelaut. Pernah nonton video penyu yang hidungnya kemasukan sampah sedotan dan ikan paus yang terdampar isi perutnya sampah plastik. Serem banget. Udah harus jadi perhatian nih sampah sekarang ini.

    BalasHapus
  9. Kita gabisa nunggu pemerintah sih..hrs mulai milah sampah sendiri..bikin kompos sendiri, kasihin sampah yg bisa diolah ke bank sampah, ke pemulung... Jadi ya memang kudu mulai dr diri sendiri dlu hehe

    BalasHapus
  10. mestinya sampah ini kita kelola sendiri dan mulai sadar pentingnya memisahkan sama dan diet sampah plastik!

    BalasHapus
  11. Huwa aku langsung kliyengan bayangin di dunia ini penuh dengan timbunan sampah yang menumpuk karena gabisa terdaur ulang ya Allah :'(

    BalasHapus