Dampak Kerusakan Karst Pada Sumber Air



Sudah menjadi isu lama bahwa masyarakat yang berada di Kawasan Karst Citatah 125, Padalarang, semakin sulit mendapatkan air. Hal ini dikarenakan semakin sulitnya sumber air di Citatah, yakni  akibat sumur yang mati dan mata air Gunung Pabeasan yang semakin kecil sumber airnya. Selain itu, semakin tingginya  eksploitasi Karst yang tidak didampingi dengan tindakan konservasi.
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, Karst adalah daerah yang terdiri atas batuan kapur yang berpori sehingga air di permukaan tanah selalu merembes dan menghilang ke dalam tanah..  Secara sederhana, karst terdiri dari batuan gamping. Fungsi dari karst itu sendiri yakni untuk penyimpanan air tanah.

Menurut dosen Geohidrologi Fakultas Geologi Universitas Padajdjaran yakni M.N. Barkah, M.T ,karst berfungsi untuk penampungan atau resapan air hujan yang kemudian ditampung menjadi air tanah. Saat berbicara mengenai pengerukan karst yang berdampak pada semakin sedikitnya sumber air, beliau menyatakan bahwa jika penampungan air tidak ada maka jelas air nya juga tidak ada.
“Sebenarnya, sumber air pada batu gamping ,air masuk pada lubang-lubang yang berada diatas, kemudian dibawahnya ada batuan yang kedap yakni batu lempung,kemudian air keluar sebagai sungi bawah tanah, nanti efeknya kalo gamping dikeruk airnya tidak bisa meresap dan langsung ke lintasan, jadi air hujan tidak bisa masuk dan akan menjadi air permukaan dan menjadi banjir.” jelasnya saat di temui di laboratorium geologi dan lingkungan Fakultas Geologi Universitas Padjadjaran.
 Padahal menurut penjelasannya jika karst tidak semakin  habis maka air hujan akan tertampung dan menjadi air tanah yang bisa digunakan sebagai sumber air untuk masyarakar sekitar. Menurut pandangan masyarakat, salah satunya yakni Ningsih 59 tahun, ketika berbicara mengenai sulitnya air di Desa Padalarang ini, ia berpandangan bahwa hal ini meurpakah salah satu dampak dari adanya tambang karst yang membuat semakin menipisnya pegunungan karst.
“Kalau dulu, air masih banyak, kemudian pegunungan karst masih bagus, tidak seperti sekarang setelah pabrik marmer dibangun , sebelumnya tempat pabrik itu adalah lahan kosong yang dijadikan lapangan. Sumber air berada disitu dan airnya masih bisa dimanfaatkana oleh warga” jelasnya ketika ditemui di sela-sela pekerjaan nya sebagai pemecah batu.
Ibu Ningsih , 59 tahun

Menurut penjelasan Ningsih, sekarang air semakin sulit didapatkan. Ditambah lagi sumber air yakni sumur warga sudah kering dan mati. Jika mengandalkan air Gunung Pabeasan juga tidak mungkin lagi karena sumber airnya sudah semakin kecil dan jika musim kemarau kering.
Menurut warga lain yakni , menurut Cucu 32 tahun  permasalahan kurangnya air bersih di Citatah yakni hampir sama ,karena sumber air yang mati. “ Mata air sekaramg sangat kecil,apalgi jika musim kemarau. Jika  musim hujan airnya keruh. Untuk sumber air, saya menggunakan sumber air yang berasal dari pabrik marmer yakni yang menggunakan saluran air yang di bagikan ke warga, itu pun juga kecil airnya” jelasnya saat ditemui di warung tempat ia kerja.
Menurut warga  yang berada di Kampung Pamucatan RT 01 RW 19, Desa Padalarang, keringnya sumber air masih akibat adanya ekploitasi karst oleh pabrik yang tidak didampingi dengan tanggung jawab sosial pada lingkungan masyarakat yakni seperti membangun  saluran air untuk warga sekitar. “ Saat ini, saya akan rapat dengan orang pabrik, meminta penanganan kekurangan air yakni dengan membangun sumur yang kemudian dialirkan ke rumah warga. Akan tetapi masalahnya disini adalah titik sumber air, oleh karena itu saya dan warga akan mengadakan rapat duul dengan orang pabrik” jelas Pak Ade ketua RT Desa Padalarang .
bak penampungan air  yang sumbernya diambil dari dalam pabrik marmer berfungsi sebagai penampungan sumber air warga

“Masih akan ada rapat lain juga , pabrik ini sulit, pekerja juga dari orang jauh bukan sekitar, kalo air emang susah sekarang, emang dampak dari pabrik sama pertambangan, ini aja semakin tipis. Makannya sekarang ada Gunung Lapeugan, sebenarnya dulu enggak ada, masih citatah 125” jelasnya ketika ditanya mengenai kemajuan usulan pembuatan sumur dan bagaimana sumber air bersih Desa Padalarang sekarang.
Tindakan dalam mendapatkan sumber air juga dilakukan oleh warga secara individu, contohnya yakni Didin dan Yasun. Mereka membuat sumur bor di rumahnya sedalam 25 meter akan tetapi hasil yang didapatkan nihil, tidak ada air yang keluar sama sekali.hal ini jelas  merugikan materi karena biaya untuk mengebor sumur sedalam 25 meter  tidaklah sedikit.
” Untuk kualitas air  Citatah memang kurang bagus yakni mengandung larutan jenuh akan karbonat ,  maka zat larutnya akan tinggi sehingga akan menimbulkan efek jangka panjang contohnya batu ginjal, tapi secara kasat mata  jernih tapi kalo di tes total zat larut nya tinggi,” jelas M.N. Barkah, M.T. ketika ditanya mengenai kualitas air yang ada di Desa Padalarang.
Menurutnya, ketika air dalam kondisin jenuh maka secara kualitas kurang memenuhi , memang bisa dikonsumsi akan tetapi harus dimasak sampai matang sehingga zat larut yakni zat karbonat akan terpisah dari air.
Ketika ditemui  di laboratorium hidrogeologi, geologi  dan lingkungan, beliau menyatakan bahwa untuk tahu volume air yang hilang setiap tahunnya harus ada kajian lagi . “ Kandungan volume air yang hilang disana, kalo kita ngomongin kandungan air yang hilang ada kajiannya kita harus tahu curah hujannya seperti apa, air permukaan, berapa perubahan tata guna lahan, dan menggunakan pendekatan matematik siklus hidrolik. Yang jelas, sekarang masih kurang tahu berapa volume air yang hilang setiap tahunnya , karena ada penelitian lagi. Yakni dengan Siklus hidrologi akan menjawab semuanya” jelasnya.
 Titik sumber air di batuan karst memang susah ditemukan hal ini dikarenakan sistem air disana tidak seperti sistem air umum, yakni bukan batuan atau endapan vulkanik yang dibawah permukaan  pasti ada air.  Di karst sistemnya yakni  melalui rengkahan-rengkahan yang terbentuk gua-gua dan membentuk sumber air  bawah tanah.
“Jika ingin memanfaatkan sumber air yang ada di dalam tanah, atau air tanah, maka caranya yakni dengan  dibendung lalu memakai pemipaan dan didistribusikan ke masyarakat. Jika kita mengandalkan sumur bor, kita tidak bisa mengandalkan karena dibawahnya belum pasti titik bor sumber air. Kita belum tentu mendapatkan titik bor. Karena di karst airnya ada pada satu saluran sungai bawah permukaan dan jika ingin mengebor maka harus diteliti lagi titik bornya”
Sekarang ini dengan adanya kekurangan air di Desa Padalarang yang dibutuhkan yakni bagaimana pemerintah membuat jaringan air sehingga air yang ada bisa dimanfaatkan secara optimal jadi tidak ada air yang terbuang.” Untuk daerah bagian atas yang dekat dengan pegunungan salah satu solusi yakni bisa menggunakan tekhnologi bangunan air. Yakni menampung selama hujan dan menggunakan saat kemarau” jelasnya ketika mengungkapkan salah satu solusi bagaimana mendapatkan  sumber air di Desa Padalarang.
Menurut warga, secara umum air semakin berkurang akibat eksploitasi karst akan tetapi Menurut M.N. Barkah, M.T karst bukanlah satu-satunya faktor utama penyebab keringnya sumber air.
 “Banyak faktor kehilangan air salah  satunya memang perubahan tata guna  lahan,jadi yang semula harusnya  sebagai meresapkan air tapi di eksploitasi, akan tetapi di sistem dikarst lain, titik-titik dimana masuknya air  harus dipetakan , harus dibuat saluran untuk masuknya air. Kalau penambangan karst sendiri berpengaruh tapi kurang signifikan “
Menurut M.N. Barkah, M.T. memang eksploitasi berpengaruh tapi tidak signifikan. Akan tetapi jika memang pengerukan dilakukan terus menerus dan semakin lama tanpa adanya langkah konservasi maka jelas bahwa sumber air akan habis, karena air hujan tidak bisa meresap lagi, dan yang terjadi air hujan masuk sungai dan tidak masuk ke tanah.
“air sifatnya siklus. Yang pertama, air tanah berkurang kalo masuknya memang kurang dan yang kedua pengambilannya berlebihan. Ibaratkan sebuah wadah yang isininya satu liter tapi diambil lima liter makan lama-kelamaan semakin kering. Seperti  halnya di kota besar mengenai daerah resapan, bukan maslah kurangnya daerah resapan, tetapi kuota air yang diambil lebih banyak dari seharusnya”.
“untuk langkah konservasi,baru seperti daerah goa pawon. Itu juga dilihat dari sejarahnya.  Untuk saat  ini konservasi berbasis air tanah orang masih jarang tapi berbasis ekologi sudah ada, untuk regulasi menyangkut konservasi air tanah saat inipun masih belum” jelasnya ketika berbicara mengenai bagaimanan konservasi air tanah desa padalarang kawasan Citatah 125.















Tidak ada komentar:

Posting Komentar